Penggilingan tebu menggunakan tenaga kerbau masih lestari di Nagari Lawang Agam (Video)

id berita agam,berita sumbar,kerbau

Penggilingan tebu menggunakan tenaga kerbau masih lestari di Nagari Lawang Agam (Video)

Proses penggilingan tebu menggunakan tenaga kerbau di Jorong Gajah Mati, Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. (Antarasumbar/Etri Saputra)

Gunanya kerbau itu agar tidak merasa pusing saat mengelilingi putaran penggilingan dan juga fokus pada jalannya,
Lubukbasung (ANTARA) - Penggilingan tebu dengan menggunakan tenaga kerbau masih lestari di Nagari Lawang, Kecamatan Matur Kabupaten Agam, Sumatera Barat hingga menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang berkunjung ke daerah itu.

Selain menjadi salah satu daya tarik wisatawan penggilingan tebu secara tradisional sudah menjadi industri rumahan bagi masyarakat sekitar karena mayoritas masyarakat di sana berkebun tebu untuk diolah menjadi gula saka.

Deswarina, salah satu pemilik penggilingan tebu tradisional di Jorong Gajah Mati, Nagari Lawang, Agam, Selasa, mengatakan proses penggilingan tebu menggunakan tenaga kerbau sudah menjadi tradisi turun temurun bagi masyarakat setempat.

Meski sebahagian masyarakat sudah beralih menggunakan tenaga mesin namun dia tetap mempertahankan cara lama dengan menggunakan tenaga kerbau yang sudah ada sejak zaman Belanda itu.

Bedanya kalau dengan menggunakan mesin proses penggilingan tebu itu bisa cepat dan hasil yang didapat juga banyak, kalau dengan cara tradisional tentunya memakan waktu lebih lama.
Proses penggilingan tebu menggunakan tenaga kerbau di Jorong Gajah Mati, Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. (Antarasumbar/Etri Saputra)


Proses penggilingan tebu dengan tenaga kerbau caranya dengan mengikatkan sebatang kayu ke pundak kerbau dan kayu itu terhubung ke alat penggilingan.

Setelah itu kedua mata kerbau ditutup dengan kacamata khusus yang dibuat dari tempurung kelapa lalu diikatkan dengan menggunakan kain.

"Gunanya kerbau itu agar tidak merasa pusing saat mengelilingi putaran penggilingan dan juga fokus pada jalannya," katanya.

Kemudian air yang dihasilkan dari perasan tebu tersebut ditampung dengan sebuah wadah untuk diolah menjadi gula saka atau biasa disebut juga dengan gula merah.

Dalam sehari Deswarina bisa memproduksi sebanyak 25 kilo sampai 27 kilo gram gula saka dari hasil perasan tebu, 2 kilo gram gula saka dijual seharga Rp35.000 ribu rupiah.

Ia mengaku pembuatan gula saka sudah menjadi tradisi turun temurun dari keluarganya bahkan sudah ada sejak zaman Belanda.

Efrison, salah seorang pengunjung yang juga Kabid Pariwisata Kabupaten Tanah Datar mengaku penggilingan tebu secara tradisional tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan ke daerah itu.

"Ini merupakan salah satu warisan budaya yang sudah ada sejak dahulunya yang harus dipertahankan, ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan," katanya.



Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar