Rekonstruksi ungkap duel pegawai rumah makan di Bukittinggi karena sakit hati yang sudah lama dipendam

id Rekonstruksi,Rekonstruksi perkelahian di bukittinggi,berita bukittinggi,bukittinggi terkini,berita sumbar,sumbar terkini

Rekonstruksi ungkap duel pegawai rumah makan di Bukittinggi karena sakit hati yang sudah lama dipendam

Tersangka AF saat memperagakan adegan komunikasi dengan korban bersepakat menentukan lokasi perkelahian. (Antara/Ist)

Bukittinggi, (ANTARA) - Kepolisian Resor Kota Bukittinggi, Sumatera Barat menggelar rekonstruksi perkelahian dua pegawai sebuah rumah makan di daerah tersebut yang terjadi pada Senin (30/3) di Jalan Bukit Gulai Bancah.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bukittinggi AKP Chairul Amri Nasution di Bukittinggi, Senin, mengatakan rekonstruksi digelar di halaman Polres Bukittinggi dan memperagakan 20 adegan inti sebab akibat perkelahian.

"Kami tidak lakukan di lokasi asli di Gulai Bancah karena hanya memperagakan 20 adegan inti saja yang benar-benar menunjukkan sebab perkelahian dan akibatnya," katanya.

Dari hasil keterangan tersangka AF (21) dan proses rekonstruksi yang dijalani, ia menerangkan perkelahian AF dengan korbannya AN (25) memang disebabkan rasa sakit hati yang sudah lama dipendam pelaku.

"Hal itu terlihat dari adegan satu sampai empat yang kami sengaja ulang untuk mempertegas sebab terjadinya perkelahian hingga berujung tewasnya korban," katanya.

AF pernah menegur korban agar melayani tamu dengan baik namun korban tidak terima dengan teguran itu.

Selama sekitar satu tahun lamanya AF sudah memendam sakit hati pada AN. Korban juga kerap mengajak pelaku untuk berkelahi agar bisa sama-sama melepaskan sakit hati.

Selanjutnya mereka sepakat untuk berduel di belakang kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bukitttinggi di Jalan Bukit Gulai Bancah pada Senin(30/3) pukul 10.00 WIB.

Dalam perkelahian itu AF menggunakan parang dan menebas bagian kepala dan tangan korban yang akhirnya tewas.

Pelaku kemudian ditangkap Polres Bukittinggi di Simpang Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Agam pada Selasa(31/3) pagi.

"Berkas perkara kasus ini sudah lengkap. Rekonstruksi yang dilakukan membuat terang setiap kasus," katanya.

Tersangka dijerat Pasal 338 juncto 340 KUHP dengan ancaman hukuman 15 sampai 20 tahun penjara. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar