Padang Panjang atasi kerugian peternak dengan membeli susu sapi yang tak terjual

id susu padang panjang,produksi susu sapi padang panjang,pandemi covid-19

Padang Panjang atasi kerugian peternak dengan membeli susu sapi yang tak terjual

Sapi perah di kelompok tani Permata Ibu Padang Panjang. (ANTARA/ Ira Febrianti)

Padang Panjang (ANTARA) - Pemerintah Kota Padang Panjang, Sumatera Barat membeli susu sapi yang tidak terjual dari usaha peternakan warga setempat untuk mengatasi kerugian pelaku usaha karena wabah COVID-19.

"Dampak dari wabah COVID-19, permintaan susu sapi jauh berkurang. Susu yang tidak terjual itu yang kami beli dari kelompok peternak," kata Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Padang Panjang Ade Nafrita Anas di Padang Panjang, Rabu.

Ia menerangkan sebelum ada wabah virus corona jenis baru, permintaan susu sapi perah di daerah itu setiap hari mencapai 900 liter. Saat wabah permintaan jauh berkurang hingga menjadi 200 sampai 400 liter per hari.

Susu yang dibeli oleh pemerintah adalah susu yang tidak terjual untuk selanjutnya diolah menjadi keju karena memiliki masa simpan lebih lama dibanding susu murni.

Produk keju juga dinilai memiliki banyak peminat karena banyak jajanan kekinian yang menjadikan keju sebagai pelengkap atau penambah cita rasa.

Satu liter susu dibeli dari para peternak sapi perah seharga Rp5.000 sampai Rp7.000 per liter.

Keju yang diproduksi dari produk susu itu kemudian dijual di Rumah Keju yang dikelola oleh Dinas Pangan dan Pertanian Padang Panjang berlokasi di Kelurahan Gantiang bekas Kantor Ketahanan Pangan.

"Kami juga berencana menggandeng pihak ke tiga untuk membeli susu bila penurunan permintaan masih terus terjadi. Susu dari Padang Panjang ini produk unggulan daerah dan sudah diakui kualitasnya oleh PT Fonterra Brand Indonesia," katanya.

Jelang berakhirnya masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk memutus penularan virus corona jenis baru dan beralih ke kondisi kenormalan baru diharapkan permintaan susu di Padang Panjang akan kembali membaik.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar