Terdampak COVID-19, ratusan pelaku UKM di Pariaman mendapat bantuan sembako

id bantuan sembako,sembako untuk ukm,pariaman,genius umar,ukm terdampak covid-19

Terdampak COVID-19, ratusan pelaku UKM di Pariaman mendapat bantuan sembako

Wali Kota Pariaman, Sumbar Genius Umar (tengah) memberikan sambutan pada penyaluran sembako secara simbolis kepada pelaku UKM di daerah itu. (Antara Sumbar/Aadiaat M. S.)

​​​​​​​Pariaman (ANTARA) - Sebanyak 650 pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Kota Pariaman, Sumatera Barat mendapat bantuan sembako dari sejumlah bank baik BUMN maupun BUMD guna meringankan beban mereka dalam menghadapi pandemi COVID-19.

"Pendataannya kami serahkan kepada dinas terkait, yang jelas jumlahnya 650 orang," kata Wali Kota Pariaman Genius Umar saat penyerahan bantuan sembako tersebut secara simbolis kepada pelaku UKM di Pariaman, Senin.

Pelaku usaha yang menerima bantuan tersebut di antaranya memiliki usaha jahit, sulaman, dan bordir yang mengalami penurunan omzet secara drastis.

Meskipun usaha yang dijalaninya masih ada transaksi jual beli, lanjutnya namun hasilnya tidak mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Ia meminta warga di daerah itu untuk terus menerapkan protokol COVID-19 guna meminimalisasi penyebaran virus tersebut sehingga pandemi itu segera berakhir.

"Jadi aktivitas kembali normal dan perekonomian kembali lancar," katanya.

Adapun bank yang membantu sembako untuk pelaku UKM di daerah itu yaitu Bank Nagari 400 paket sembako, BNI 100 paket sembako, dan BRI 150 paket sembako.

Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Pariaman Gusniyetti Zaunit mengatakan tiga bulan sebelum lebaran pelaku UKM di daerah itu telah mempersiapkan produknya.

"Namun ternyata dua bulan sebelum lebaran terjadi pandemi COVID-19 yang terdampak pada ekonomi masyarakat sehingga produk yang dihasilkan tidak terjual" ujarnya.

Ia menyampaikan biasanya produk yang diproduksi pelaku usaha bordir dan sulaman di daerah itu dipasarkan di Pasar Bukittinggi namun karena kondisi pandemi maka aktivitas jual beli pun terhenti.

"Yang beli produknya sekarang hanya warga sekitar yang tentu omzetnya tidak besar," tambahnya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar