Minyak beragam, kesepakatan pemotongan produksi tak kurangi kekhawatiran permintaan

id harga minyak,minyak WTI,minyak Brent

Minyak beragam, kesepakatan pemotongan produksi tak kurangi kekhawatiran permintaan

Ilustrasi - Petugas tengah memeriksa mesin pengisian ulang bahan bakar minyak di SPBU, Jakarta. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/foc.)

New York (ANTARA) - Harga minyak bervariasi pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena kesepakatan pemotongan produksi bersejarah yang dilakukan oleh produsen minyak global tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran tentang perusakan permintaan yang disebabkan oleh pandemi virus COVID-19.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, turun 0,35 dolar AS atau 1,5 persen menjadi menetap pada 22,41 dolar AS per barel, terendah sejak 1 April. Pada awal perdagangan WTI menguat lebih dari lima persen.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Jun,i naik 0,26 dolar AS atau 0,8 persen menjadi ditutup pada 31,74 dolar per barel.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), bersama dengan Rusia dan negara-negara lain yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat pada akhir pekan untuk memotong produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) pada Mei dan Juni, mewakili sekitar 10 persen dari pasokan global, setelah empat hari pembicaraan.

Selain itu, beberapa negara lain akan mengurangi produksi juga, dengan perkiraan total pemotongan sekitar 19,5 juta barel per hari.

"Respons hangat pasar minyak terhadap perjanjian OPEC+ tampaknya tepat," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois. "Kesepakatan itu tampak seperti upaya putus asa menit terakhir untuk membuat kejutan di pasar tetapi yang gagal sejauh ini mengingat besarnya penurunan permintaan."

Konsumsi bahan bakar di seluruh dunia turun sekitar 30 persen akibat pandemi COVID-19 yang telah menewaskan lebih dari 110.000 orang di seluruh dunia dan membuat seluruh negara terkunci.

Hal itu diperkirakan akan mengakibatkan pasokan menggantung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun bahkan dengan pengurangan produksi. Itu mungkin membatasi kenaikan harga minyak bahkan setelah kesepakatan OPEC+, yang membutuhkan beberapa hari negosiasi untuk diselesaikan.

"Masalahnya adalah bahwa permintaan jangka pendek kemungkinan sekitar 30 juta barel per hari, kondisi kelebihan pasokan tetap ada," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York. "Permintaan minyak mentah tidak akan kembali ke level normal hingga 2022."

Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan negara-negara dalam kelompok G20 telah berjanji untuk memotong sekitar 3,7 juta barel per hari dan bahwa pembelian cadangan strategis akan mencapai sekitar 200 juta barel selama beberapa bulan ke depan, sehingga total pengurangan menjadi sekitar 19,5 juta barel per hari.

Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab secara sukarela melakukan pemotongan lebih dalam dari yang disepakati, yang secara efektif akan menurunkan pasokan OPEC+ sebesar 12,5 juta barel per hari dari level saat ini.

Namun, para analis meragukan kemungkinan kepatuhan produsen dengan pengurangan produksi, paling tidak sejak Meksiko memulai dengan pengurangan yang lebih kecil dari yang diminta semula.

Di luar OPEC+, Kanada telah mengisyaratkan keinginan untuk memotong produksi dan Norwegia mengatakan akan memutuskan tentang pemotongannya "dalam waktu dekat."

Amerika Serikat, di mana undang-undang antimonopoli mempersulit bertindak bersama-sama dengan kelompok-kelompok seperti OPEC, mengatakan bahwa harga rendah berarti produksinya akan turun sebanyak dua juta barel per hari tahun ini tanpa pemotongan yang direncanakan.

Pasar minyak terus memberi sinyal kelebihan pasokan jangka pendek, meskipun ada optimisme atas dampak jangka panjang dari pemotongan produksi OPEC+.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar