Walau bebas, Warga binaan peroleh asimilasi tetap diberi bimbingan

id program asimilasi,rutan muaralabuh,dampak covid-19

Walau bebas, Warga binaan peroleh asimilasi tetap diberi bimbingan

Kepala Lapas Terbuka Kelas II B Pasaman, Azhar saat memberikan arahan kepada narapidana yang memperoleh program asimilasi. (antarasumbar/Altas Maulana)

Padang Aro (ANTARA) - Kepala Rutan Kelas II B Muaralabuh Solok Selatan, Sumatera Barat Sarwono mengatakan warga binaan yang yang mendapat asimiliasi bukan berarti bebas sepenuhnya tetapi mereka dirumahkan dengan bimbingan dan pengawasan Balai pemasyarakatan (Bapas).

"Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Muaralabuh ada enam orang yang mendapat asimilasi sebagai langkah pencegahan dan penanganan dampak Corona Virus Disease (COVID-19) dan mereka tetap kami awasi," katanya di Padang Aro, Jumat.

Sebelum dikeluarkan WBP Rutan Muaralabuh memastikan warga binaan itu dalam kondisi sehat dan mereka sudah dipulangkan pada Rabu (2/4).

Sebanyak enam WBP yang mendapat asimilasi tersebut ditetapkan melalui sidang Tim Pengamat Permasyarakatan (TPP) Rutan setempat.

"Mereka yang dibebaskan ini merupakan pelaku tindak pidana ringan yang masa hukumannya tersisa enam bulan lagi," ujarnya.

Asimilasi merupakan tindak lanjut Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020 serta Surat Edaran Dirjenpas Nomor PAS-497.PK.01.04.04 Tahun 2020, tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan hak integritas bagi narapidana dan anak dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran COVID -19.

Dia mengatakan warga binaan yang memperoleh asimilasi ada persyaratan yang mengikat dalam apabila mereka melanggar maka akan di masukan kembali ke Rutan.

Asimilasi, katanya bertujuan untuk menyelamatan tahanan dan WBP dari penyebaran atau penularan COVID-19 sekaligus bentuk pemenuhan hak integritas narapidana untuk kembali menyatu dengan masyarakat.

Dia menyebutkan penghuni Rutan Muaralabuh sekarang melebihi kapasitas dan setelah enam orang dipulangkan saat ini jumlah WBP di Rutan tersebut tersisa 63 orang sedangkan idealnya hanya 24 penghuni.

Selain asimilasi, pihaknya sendiri juga telah menutup kunjungan tahanan sejak 23 Maret 2020 dan berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan dalam upaya mengantisipasi penyebaran COVID-19 di lingkungan Rutan.

"Untuk saat ini, kunjungan sementara ditiadakan guna mencegah penyebaran COVID-19 dan sebagai gantinya kami menyediakan layanan video call untuk warga binaan," jelasnya.

Untuk layanan vidio call sudah disediakan komputer bagi penghuni Rutan yang akan dipergunaan sebagai ganti kunjungan.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar