Harga gula Rp16.000 per kilogram, ini penjelasan Bulog

id gula mahal di sumbar,gula di sumbar,gula pasir mahal, stok gula menipis,stok gula habis

Harga gula Rp16.000 per kilogram, ini penjelasan Bulog

Pimpinan Bulog Wilayah Sumbar, Tommy Despalingga. (ANTARA/Miko Elfisha)

Padang (ANTARA) - Pimpinan Wilayah Bulog Sumatera Barat, Tommy Despalingga menepis dugaan "panic buying" terkait virus corona menjadi penyebab naiknya harga gula pasir di daerah itu hingga mencapai Rp16.000 per kilogram.

"Kenaikan harga itu karena stok yang menipis. Bukan karena aksi borong masyarakat terkait corona," katanya di Padang, Rabu.

Persoalan kenaikan harga gula pasir yang sebagian dipicu oleh kelangkaan produk itu, katanya, bukan hanya terjadi di Sumbar, tetapi juga di daerah lain di Indonesia.

"Bisa dikatakan ini sudah jadi persoalan nasional. Pemerintah tentu sedang mencarikan solusi terbaik," katanya.

Ia mengakui untuk stok gula pasir di Bulog Sumbar, sejak Januari 2020 sudah menipis dan sekarang kosong. Pihaknya sudah mengajukan tambahan pasokan sebanyak 1.000 ton ke pusat untuk mengantisipasi awal Ramadhan dan lebaran 2020.

"Normalnya di Sumbar kebutuhan gula itu sekitar 50 ton sehari. Karena itu pasokan 1000 ton diharapkan bisa memenuhi kebutuhan hingga lebaran," ujarnya.

Ia memprediksi harga gula pasir itu akan segera stabil karena akhir Maret hingga April 2020 biasanya kilang-kilang gula pada daerah sentra mulai berproduksi.

Harga gula pasir di Sumbar naik cukup signifikan sejak Januari 2020 dari awalnya sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram menjadi sekitar Rp16.000 per kilogram.

Awalnya kenaikan harga itu diduga karena aksi "panic buying" masyarakat karena virus corona, tetapi hal itu dibantah Bulog berdasarkan fakta kenaikan sudah mulai terjadi sejak Januari 2020.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar