IHSG turun tajam, pasar dinilai bereaksi berlebihan

id ihsg,bursa,saham,eastspring,manajer investasi

IHSG turun tajam, pasar dinilai bereaksi berlebihan

IHSG melemah, pelaku pasar masih cemas penyebaran Virus Corona

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan Manajer Investasi Eastspring Investments Indonesia menilai pelaku pasar bereaksi berlebihan terhadap penyebaran COVID-19 sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam dalam beberapa hari terakhir.

"Pasar bereaksi berlebihan dan valuasi terkoreksi ke level terendah dalam 10 tahun terakhir," tulis keterangan Eastspring yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Menurut Eastspring, rasio Price to Earning (PE) untuk mengukur seberapa besar investor menilai saham, saat ini berada di level 12,4 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata 15 kali.

Eastspring menilai, volatilitas masih tetap tinggi. Dalam jangka pendek, pasar masih bereaksi negatif terkait dengan penyebaran COVID-19 dan investor cenderung menempatkan aset mereka di "safe havens" seperti obligasi dan emas.

Eastapring berharap pasar dapat pulih dalam jangka menengah panjang. Eastpring mencontohkan wabah virus SARS pada 2003 sebagai perbandingan terdekat dengan COVID-19.

Saat itu, pasar secara luas merespons negatif selama Januari hingga Maret 2003. Namun, kembali menguat (rebound) satu tahun setelahnya.

Begitu pula dengan wabah lain seperti flu burung, MERS, Ebola dan Zika, yang juga menunjukkan pola yang sama tetapi dengan besaran koreksi dan rebound yang berbeda.

Eastspring mengimbau investor untuk tidak panik, tetap tenang, dan berinvestasi, terutama di obligasi.

"Ekspektasi penurunan suku bunga, ketidakpastian yang tinggi dan inflasi yang stabil, akan mendukung obligasi untuk tetap menarik," tulis Eastpring.

IHSG anjlok hingga 4 persen pada hari ini dan terkoreksi lebih dari 15 persen sejak awal tahun. Indeks global dan regional juga terkoreksi karena kekhawatiran tentang penyebaran COVID-19 ke negara lain.

Penularan virus tersebut sangat cepat dibandingkan dengan wabah virus lainnya dan dikhawatirkan akan memiliki dampak ekonomi yang signifikan.

IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global dapat terkoreksi 0,1-0,2 persen pada 2020. Sedangkan pertumbuhan ekonomi China bisa turun sebesar 1 persen pada 2020.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar