Ahli kesehatan sebut daya tahan tubuh kunci hadapi virus corona

id virus corona,pencegahan corona,daya tahan tubuh,Virus,Corona,penanganan corona,corona

Ahli kesehatan sebut daya tahan tubuh kunci hadapi virus corona

Warga di China mengenakan masker saat menggunakan transportasi umum untuk mengantisipasi penyebaran wabah yang diakibatkan virus corona. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Jakarta, (ANTARA) - Ahli kesehatan Prof Dr dr Iris Rengganis, Sp.PD-KAI mengatakan daya tahan tubuh menjadi kunci untuk menghadapi virus corona, yakni dengan menjalankan pola hidup bersih dan sehat.

Bagi warga Jakarta, kata Iris di Jakarta, Senin, dengan aktivitas yang padat terkadang luput untuk menjaga pola hidup sehat terutama saat harus beraktivitas di luar ruangan.

Dia mengingatkan penting untuk menjaga makanan dengan gizi seimbang, rajin berolahraga, istirahat yang cukup dan rajin mencuci tangan dengan sabun. Selain itu menggunakan masker, terutama bila berada di tengah keramaian.

"Sementara pencegahan internal dapat dilakukan dengan memodulasi (mengatur) sistem daya tahan tubuh," kata dia.

Iris menjelaskan tubuh memiliki sistem pertahanan, sebagai mekanisme alami untuk melawan ancaman dari masuknya benda asing dari luar, seperti virus, bakteri, jamur. Bila daya tahan tubuh lemah, maka benda asing tersebut akan mudah masuk.

Hal itu menyebabkan terkena infeksi dan muncul beberapa gejala misalnya bersin, demam dan lainnya.

"Apalagi kondisi saat ini, dimana virus corona mudah menyebar dan belum ditemukan vaksin untuk virus corona. Pada kasus seperti ini, jalan terbaik yang bisa dilakukan adalah tindakan pencegahan, secara eksternal maupun internal," ujar dia.

Penggunaan imunostimulan dapat dianjurkan pada orang-orang yang merencanakan bepergian dan sering berada di pusat keramaian. Selain itu, kelompok usia yang rentan memiliki daya tahan tubuh rendah, terutama lanjut usia (di atas usia 60 tahun).

Prof Iris juga menambahkan bahwa meningkatkan daya tahan tubuh pada kondisi ini menjadi sangat penting untuk semua orang. Baik yang memiliki risiko tinggi ataupun tidak.

Imunostimulan bekerja untuk merangsang pembentukan sel-sel imun seperti sel B yang kemudian akan membentuk antibodi.

“Pada kondisi dimana risiko paparan terhadap infeksi virus sangat tinggi, maka imunostimulan dapat ditambahkan disamping pencegahan lainnya," katanya.

Imunostimulan dapat dikonsumsi dalam durasi tertentu sampai risiko paparan virus menurun. "Sebaiknya dikonsumsi sebelum seseorang terinfeksi suatu penyakit, karena Imunostimulan membutuhkan waktu untuk merangsang sistem imun,” ungkap Prof Iris.

DR. Raphael Aswin, MSi, VP Research & Development SOHO Global Health menjelaskan salah satu imunostimulan yang bisa dimanfaatkan dari ekstrak bunga echinacea pupurea dan mineral zinc picolinate.

Kandungan echinacea purpurea juga telah terbukti secara klinis dapat memodulasi system daya tahan tubuh dan mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut, jelasnya.

Sementara zinc picolinate berperanan aktif dan bekerja sinergis pada sistem daya tahan tubuh.

Bisa juga memanfaatkan ekstrak tumbuhan blackelderberry yang dapat mencegah replikasi virus serta menstimulasi peningkatan sistem daya tahan tubuh dengan cara meningkatkan produksi monosit. Yaitu bagian darah putih yang berperan dalam sistem daya tahan tubuh, sehingga akan mempercepat proses penyembuhan bagi orang yang sudah sakit karena terinfeksi virus. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar