Layanan finger print mudahkan Nurhasni cuci darah dua kali sepekan

id berita padang, berita sumbar, bpjs kesehatan, cuci darah, hemodialisi

Layanan finger print mudahkan Nurhasni cuci darah dua kali sepekan

Nurhasni warga Parupuk Tabing saat menjalani cuci darach di RSUP M Djamil Padang. (ANTARA/Ikhwan Wahyudi)

Padang, (ANTARA) - Di antar suaminya menggunakan sepeda motor dari Parupuk Tabing, Nurhasni (37) dua kali dalam sepekan rutin menyambangi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang.

Sejak mengalami gagal ginjal empat bulan lalu ibu dua anak tersebut harus cuci ginjal rutin dua kali dalam sepekan setiap Jumat dan Selasa.

Tiba di rumah sakit Nurhasni langsung menuju unit layanan cuci darah dan suaminya kembali pergi untuk bekerja dan akan menjemput sekitar pukul 19.30 WIB.

Sebagai peserta mandiri kelas III ia bersyukur sejak empat bulan terakhir tidak mengeluarkan sepeser uang pun untuk cuci darah yang jika pasien umum setidaknya harus mengeluarkan uang tunai hingga Rp1,5 juta untuk sekali layanan.

"Kalau pakai biaya sendiri nggak sampai gaji suami saya, BPJS Kesehatan amat membantu," ujar istri dari Ahmad Syarif tersebut.

Akan tetapi ia berharap ke depan bisa menjadi peserta penerima bantuan iuran karena keterbatasan ekonomi mengingat suaminya hanya seorang nelayan dan terkadang menjadi buruh lepas.

Bahkan sebelumnya status kepesertaan Nurhasni sempat menunggak hingga lima tahun lalu saat ia mulai sakit lagi dan butuh biaya besar akhirnya membayar denda.

"Saya sudah lapor ke kelurahan tapi sampai sekarang belum ada kabar," kata dia.

Namun dibandingkan denda dengan biaya cuci darah jauh lebih besar biaya cuci darah, sehingga ia merasa bersyukur dan cukup terbantu dengan adanya Program JKN-KIS.

Terkait dengan adanya kebijakan baru penggunaan teknologi finger print bagi pasien cuci darah, Nurhasni menyambut baik karena kerepotannya bisa berkurang, sehingga ia tak perlu mengulang rujukan dari Puskesmas Lubuk Buaya ketika memanfaatkan layanan cuci darah.

"Alhamdulillah tidak perlu lagi ke Puskesmas Lubuk Buaya. Alhamdulillah juga untuk pelayanan juga baik, tidak ada dibeda-bedakan. Kalau sebelumnya, pasien HD harus memperbarui rujukannya setiap tiga bulan sekali, dengan adanya simplifikasi administrasi layanan akan lebih memudahkan peserta dan juga RS," ujarnya.

Nurhasni mengakui dengan adanya program ini, suaminya bisa lebih fokus bekerja dan ia juga tinggal fokus menjalani cuci darah dua kali sepekan. Ia pun tetap punya harapan agar bisa sembuh dan menjalani hidup sebagaimana manusia normal lainnya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar