Petani di Pasaman Barat terancam gagal panen

id Pupuk bersubsidi langka,petani gagal panen,pasaman barat

Petani di Pasaman Barat terancam gagal panen

Pupuk bersubsidi di Pasaman Barat langka dan petani terancam gagal panen.

Simpang Empat,- (ANTARA) - Pupuk bersubsidi jenis urea di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) langka, sehingga padi, jagung dan tanaman lainnya yang telah ditanam masyakat terancam gagal dipanen.

"Benar, kami sangat heran kenapa pupuk subsidi langka dan susah diperoleh. Sedangkan pupuk non subsidi harganya cukup tinggi," kata Ketua Gabungan Kelompol Tani Sukma Karsa Sariak Kecamatan Luhak Nan Duo Pasaman Barat, Algeri Adnan di Simpang Empat, Selasa.

Menurutnya petani saat ini banyak yang tidak memberi pupuk urea tanamannya karena harga pupuk nonsubsidi cukup tinggi mencapai Rp280 ribu per karung.

Jika dibandingkan harga pupuk subsidi bisa diperoleh dengan Rp115.000 sampai Rp120.000 per karungnya.

"Petani tidak sanggup membeli pupuk nonsubsidi karena harganya yang tinggi. Sementara tanaman jagung contohnya minimal harus dipupuk dua kali. Saat ini banyak petani hanya memupuk satu kali," sebutnya.

Ia menyatakan jika kondisi ini terus erjadi, maka petani akan terancam gagal panen atau produksinya berkurang pada Februari dan Maret nanti.

"Jika pakai pupuk satu haktare tanaman jagung bisa menghasilkan 6,7 ton. Jika tidak pakai pupuk bisa gagal panen. Meskipun satu kali pupuk akan turun produksinya 1,5 sampai 2 ton per hektare," jelasnya.

Ia sangat heran kenapa pupuk subsidi sangat langka di Pasaman Barat. Padahal kelompok tani selalu membuat Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) setiap tahunnya.

"Kami berharap pupuk subsidi segera ada untuk tanaman. Untuk kelompok tani kami saja ada sekitar 150 hektare tanaman yang terancam gagal panen," ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultara dan Peternakan Pasaman Barat, Sukarli mengatakan pupuk bersubsidi memang langka di lapangan.

Menurutnya untuk pupuk bersubsidi hanya 18 persen dari total kebutuhan pupuk yang diajukan oleh petani berdasarkan RDKK.

"Kalau langka dilapangan memang alokasi pupuk 2019 sudah habis terdistribusi sampai Desember 2019.

Sementara untuk 2020 pihaknya baru dapat alokasi dari propinsi dan sedang diproses Surat Keputusan bupati.

"Saat ini hampir semua kecamatan mulai tanam padi dan tanaman lainnya. Namun pupuk bersubsidi belum bisa diyebus oleh kios ke distributor karena kita sedang membagi alokasi per kecamatan," katanya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar