Menyambut tahun politik milenial

id tahun milenial

Menyambut tahun politik milenial

Ilustrali milenial (Canva.com)

Padang, (ANTARA) - 2020 menyajikan babak baru tahun politik milenial, sungguh hal yang menarik jika memprediksi Indonesia dengan generasi milenialnya ini.

Beberapa pakar telah memprediksi, bahwa momentum Indonesia dalam jangka panjang akan sangat ditentukan pada tahun 2020. Terutama di Indonesia akan melanjutkan pesta demokrasi dengan pelaksanaan pemilihan umum serentak kepala daerah yang hampir di seluruh wilayah di Indonesia, dentuman pemilihan umum dan lika-liku panasnya politik akan kita rasakan kembali di tahun 2020, seperti pada 2019 lalu yang menghadirkan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden yang memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Hal serupa juga akan terjadi pada 2020 karena akan ada pemilihan umum kepala daerah serentak hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan keterlibatan 270 daerah yang mengikuti pemilihan umum.

Dilansir dari situs berita Bawaslu.go.id/22/12/19, menyambut Pilkada 2020 yang dilaksanakan di 270 daerah, Ketua Bawaslu Abhan menyebutkan empat elemen bangsa harus berintegritas guna menghasilkan demokrasi berkualitas. Elemen tersebut meliputi regulasi, penyelenggara, peserta pilkadadan masyakarat.

Namun elemen yang terpenting menurut Abhan adalah kalangan masyarakat yang menjadi pemilih itu sendiri. Ia meyakini masyarakat harus berani dan tegas menolak kecurangan politik yang kerap dilakukan oleh peserta pilkada. Abhan mengajak masyarakat untuk bijak dalam menggunakan media sosial.

Dia mencontohkan pada Pemilu 2019, fenomena medsos untuk penyebaran hoaks cukup masif. Karena itu ia menegaskan, masyarakat harus bisa menggunakan medsos secara bijak dengan tidak menyebarkan ujaran kebencian. Hal ini didasari karena saat ini kebutuhan akan media sosial yang dihadirkan oleh internet sudah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat milenial.

Apalagi generasi milenial lahir di era platform offline namun tumbuh dan berkembang pada era serbateknologionline. Rata-rata generasi milenial memiliki intensitas tinggi dalam berinteraksi dan berekspresi pada bidang digital yang terdapat pada sosialmedia.

Menarik memang, ketika nuansa politik akan sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena dengan datangnya 2020 para pemilih akan mulai dihiasi oleh para generasi milenial yang sudah memasuki usia pemilih dan memiliki hak untuk memberikan suara dalam pelaksanaan pemilu.

Oleh karena itu tidak bisa dipungkiri, semua pihak-pihak yang terlibat dalam pemilu sudah harus memberi perhatian lebih kepada kaum milenial ini karena sedikit saja suara akan mempengaruhi jumlah pemilihan.

Menjelang 23 September 2020 , tokoh-tokoh politik harus berani berinovasi dalam berpolitik. Tentu saja karena hadirnya kaum milenial, yang lahir dari berbagai revolusi dan bentukan tekhnologi digital super canggih yang biasa mereka konsumsi dalam kehidupan sehari-hari melalui akses internet di gawainya.

Mengapa berpolitik juga harus berinovasi?

Bagaikan kebutuhan pokok, bagi masyarakat milenial media sosial seperti youtube, twitter, instagram, blog dan lainnya sudah menjadi makanan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan.

Kesesuaian gaya hidup dan hobi milenial yang eksis, hits dan kreatif dengan sosial media banyak melahirkan profesi baru seperti vlogger, influencer, selebgram, bahkan perusahaan start up.

Bahkan generasi ini digadang-gadangkan mampu berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja dalam menghadapi tantangan persainganekonomiglobal 2030.

Nadiem Makarim CEO Gojek yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah contoh generasi milenial yang mampu memberikan perubahan dalam memanfaatkan teknologi dalam pergerakan sosial ekonomi masyarakat.

Ia mampu melihat perubahan dan melihat kebutuhan masyarakat beberapa tahun ke depan sehingga terciptanya ribuan lapangan pekerjaan. Hasilnya, generasi milenial ini berhasil menjawab apa yang dibutuhkan masyarakat dan kondisi ekonomi Indonesia pada khususnya.

Banyak orang merasakan dampak sosial ekonomi melalui terobosan inovatif pemuda ini. Penting untuk diketahui, kesuksesan tersebut tidak terlepas dari kualitas pendidikan sebagai modal dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Begitupun halnya dengan politik, ketidakmampuan tokoh politik dalam meningkatkan kompetensi dan penguasaan teknologi yang biasanya hanya bermodalkan uang saja bisa maju dipersaingan politik dipastikan akan kalah dan terancam tidak mampu bersaing dengan pasangan calon lain yang melek teknologi.,

Di era generasi milenial ini paslon dan tokoh politik harus mampu berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan, memberi peluang dan berani mengambil risiko tantangan yang dihadapi oleh masyarakat era milenial.

Kegagalan dalam berpolitik di era milenial dipengaruhi oleh ketidakpekaan dalam melihat laju perkembangan teknologi di lingkungan sekitar. Apalagi bagi masyarakat umum dampak kegagalan dalam menyesuaikan diri di era milenial juga membuat pengangguran semakin besar yang akan berbuntut pada tingginya kriminalitas pada 2020-2030 .

Dampak-dampak seperti ini yang harusnya diketahui oleh paslon dan tokoh politik yang akan bersaing di tahun milenial untuk dijadikan modal melaju di panasnya persaingan pilkada 2020.

Kesadaran inovasi sebenarnya sudah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Sumatera Barat sendiri contohnya menurut ketua Economic Development Centre Universitas Andalas Donard Gomes menilai pentingnya inovasi dalam refleksi bagi pembangunan ekonomi di Ranah Minang

Ini juga bisa menjadi sekelumit pemikiran bagi para pemimpin di Sumatera Barat nantinya yang akan berkompetisi di pemilihan kepala daerah yang terfokus pada pemilihan kepala daerah Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2020-2024. Bahwasanya tantangan inovasi di Sumatera Barat ke depan tidak mudah, padahal inovasi adalah kunci untuk kemajuan ekonomi provinsi ini.

Tantangan inovasi tidak bisa direspon hanya melalui pendekatan biasa business as usual. Hal yang paling penting adalah kesadaran para pihak-pihak politik terkait dalam mengatur strategi inovasi yang merupakan paduan dari industri unggulan, inovasi terkini, dan berbagai investasi masyarakat.

Strategi inovasi ini juga mempertimbangkan kolaborasi dengan menguasai tekhnologi digital berbasis online untuk memahami tantangan inovasi di Sumatera Barat ke depan, terutama dalam inovasi berpolitik di era milenial.

Penulis adalahDosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas

Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar