BKSDA Agam selamatkan 10 satwa dilindungi selama 2019

id BKSDA Agam,satwan dilindungi,penyerahan satwa dilindungi

BKSDA Agam selamatkan 10 satwa dilindungi selama 2019

Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 BKSDA Sumbar Khairi Ramadhan didampingi petugas BKSDA Resor Agam dan Polres Agam bakal melepasliarkan satu ekor kijang ke habitatnya. (ANTARA/Yusrizal)

Lubukbasung, (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Sumatera Barat berhasil menyelamatkan 10 ekor satwa dilindungi dan dilepasliar kembali ke habitatnya selama 2019.

Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Jumat, mengatakan 10 ekor satwa dilindungi itu jenis kucing hutan tiga ekor, elang satu ekor, kukang satu ekor, buaya muara dua ekor, burung rangkong satu ekor, kancil satu ekor dan kijang satu ekor.

"Satwa itu langsung kita lepasliar ke habitatnya. Khusus untuk kijang masih titip rawat di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Kota Bukittinggi akibat hamil tua dan sakit," katanya.

Ia mengatakan, satwa dilindungi Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistimnya itu merupakan penyerahan dari warga Agam.

Satwa itu, tambahnya, masuk ke permukiman mereka dan langsung ditangkap.

Setelah itu warga melaporkan temuan itu ke BKSDA Resor Agam dan petugas langsung menjemput untuk dilepasliar ke habitatnya.

"Apabila satwa itu sakit, maka akan kita titip rawat ke TMSBK Kota Bukittinggi sampai sehat," katanya.

BKSDA Agam, tambahnya, juga menangani 11 kejadian konflik antara manusia dengan satwa liar di daerah itu sepajang 2019.

Ke 11 kejadian itu berupa konflik manusia dengan beruang madu tiga kejadian, manusia dengan Harimau Sumatera tiga kejadian dan manusia dengan buaya muara lima kejadian.

"Tiga warga mengalami luka akibat diserang buaya muara, satu warga luka diserang beruang madu, dua ekor sapi dimangsa harimau dan lainnya," katanya.

Ade mengakui, konflik antara manusia dan satwa liar itu akibat menyempitnya habitat, alih fungsi penggunaan lahan.

Selain itu perburuan tradisional yang sudah jauh ke habitatnya sehingga berkurang satwa magsa bagi satwa karnifora, kurang kewaspadaan masyarakat dan tidak dijaga ternak dengan baik.

Kedepan, tambahnya, langkah yang akan dilakukan menyosialisasilkan dan penyuluhan terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, komunitas olahraga buru babi dan Perbakin tentang konservasi satwa liar dan pencegahan terjadinya konflik satwa dengan melibatkan isntansi terkait.

Meningkatkan patroli terutama kantong-kantong satwa kunci seperti Harimau Sumatera, buaya dan beruang. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar