Polisi: Ada indikasi jenazah hakim PN Medan dibuang pelaku usaha

id Pengadilan Negeri Medan,Hakim Pengadilan Negeri Medan,Hakim PN Medan dibunuh,Jamaluddin,Pembunuhan ,Pembunuhan hakim,hakim PN Medan

Polisi: Ada indikasi jenazah hakim PN Medan dibuang pelaku usaha

Jenazah Jamaluddin saat ditemukan di sebuah jurang di Dusun II Namo Rindang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (29/11) siang. (ANTARA/HO)

Medan, (ANTARA) - Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto mengatakan, ada indikasi yang membuang jenazah Hakim Pengadilan Negeri Medan di Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Jamaludin adalah palaku usaha.

"Tadi Diskrimsus menyampaikan bahwa ada indikasi pelaku usaha yang membuang jenazah. Mudah-mudahan ini bisa segera terungkap, mohon doanya," katanya saat ditemui di Mako Polda Sumut, Rabu.

Baca juga: Hakim PN Medan ditemukan tewas di jurang dalam keadaan tangan terikat di mobil Land Cruiser

Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik, kata Agus, korban telah meninggal dunia antara 12 sampai 20 jam sebelum mayat ditemukan.

"Karena sudah lewat meninggal, kaku, udah lemas kembali, kemudian lembab kembali, dan arah kepada pembusukan. Artinya korban meninggal antara 12 sampai 20 jam sebelum ditemukan," ujarnya.

Baca juga: Sudah dua orang diperiksa polisi terkait kematian Hakim PN Medan

Diberitakan sebelumnya, jenazah Jamaluddin ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di sebuah jurang di Dusun II Namo Rindang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Jumat siang pekan lalu.

Korban yang merupakan Hakim dan juga Humas Pengadilan Negeri (PN) Medan, ditemukan warga di dalam satu unit mobil Toyota Land Cruiser Prado nomor polisi BK 77 HD warna hitam.

Saat ditemukan jenazah sudah membiru dengan kondisi terbaring di posisi bangku belakang. (*)

Baca juga: Hakim PN Medan yang ditemukan tewas di jurang, berikut pengakuan sang istri

Baca juga: Hakim PN Medan ditemukan tewas di jurang, polisi diminta usut kemungkinan dugaan dibunuh


Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar