Harga minyak dunia menguat didorong harapan kesepakatan perdagangan AS-China

id harga minyak,minyak berjangka,minyak WTI,minyak Brent

Harga minyak dunia menguat didorong harapan kesepakatan perdagangan AS-China

Ilustrasi - Harga minyak naik, harga minyak tinggi, grafik panah tumbuh. ANTARA/Shutterstocks/pri. (ANTARA/Shutterstocks)

New York, (ANTARA) - Harga minyak menguat di atas 62 dolar AS per barel pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah China mengisyaratkan kemajuan menuju kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Kondisi itu meningkatkan harapan untuk mengakhiri sengketa panjang yang telah membebani pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

China dan Amerika Serikat telah sepakat dalam dua minggu terakhir untuk membatalkan tarif dalam fase yang berbeda, kementerian perdagangan China mengatakan pada Kamis (7/11/2019) tanpa memberikan batas waktu.

Perselisihan perdagangan telah mendorong analis untuk menurunkan perkiraan permintaan minyak dan meningkatkan kekhawatiran bahwa kelebihan pasokan dapat berkembang pada 2020.

Minyak jatuh pada Rabu (6/11/2019), sebagian karena kekhawatiran bahwa kesepakatan perdagangan AS-China mungkin tertunda.

"Hari ini kita mulai dengan serangkaian berita utama yang berbeda bahwa mereka mencapai kesepakatan tentang kerangka kerja," kata Olivier Jakob, analis minyak di Petromatrix. "Itu pasti yang mendukung harga".

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari naik 0,55 dolar AS atau 0,9 persen menjadi ditutup pada 62,29 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember naik 0,80 dolar AS atau 1,4 persen menjadi menetap di 57,15 dolar AS per barel.

Kenaikan WTI yang lebih besar memangkas premi Brent atas patokan AS menjadi yang terkecil sejak pertengahan September.

Komentar Beijing meningkatkan sentimen pasar, yang juga telah dikacaukan oleh laporan pasokan pemerintah AS pada Rabu (6/11/2019) yang menunjukkan persediaan minyak mentah naik pekan lalu sebesar 7,9 juta barel, jauh lebih besar dari perkiraan para analis.

Brent telah reli hampir 16 persen pada tahun ini, didukung oleh kesepakatan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu seperti Rusia untuk membatasi pasokan hingga Maret tahun depan.

Para produsen akan bertemu pada 5-6 Desember di Wina untuk meninjau kebijakan tersebut.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan minggu ini dia lebih optimis tentang prospek untuk tahun 2020 karena perkembangan perselisihan perdagangan, tampaknya mengecilkan kebutuhan untuk memangkas produksi lebih dalam.

Namun, keraguan tentang kesepakatan perdagangan dapat muncul kembali, kata para analis. Reuters melaporkan pada Rabu (6/11/2019) bahwa pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk menandatangani perjanjian dapat ditunda hingga Desember, berkontribusi terhadap penurunan minyak.

"Masih harus dilihat apakah keuntungan hari ini dapat dipertahankan," kata Fawad Razaqzada, analis pasar di Forex.com.

Persediaan meningkat dan peningkatan produksi cepat Arab Saudi setelah serangan pada September membatasi potensi kenaikan harga, kata Razaqzada. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar