Pemimpin harus miliki basis spiritualitas kuat

id PP Muhammadiyah, spritualitas,Faozan Amar.

Pemimpin harus miliki basis spiritualitas kuat

Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta. (ANTARA/Bayu Prasetyo/Dok)

Jakarta (ANTARA) - Seorang pemimpin harus memiliki basis spiritualitas yang kuat disamping keluasan wawasan, kata Sekretaris Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah, Faozan Amar.

Faozan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat, berpendapat setiap kepemimpinan juga harus memiliki basis profetik atau merujuk seperti yang dicontohkan Rasulullah.

"Pemimpin itu harus memiliki empat sifat yaitu sidiq, tabligh, amanah, fathonah sebagai basis seorang pemimpin, dan Jokowi dalam banyak hal memenuhi empat sifat tersebut," kata Faozan dalam acara diskusi publik bertajuk "Basis Spiritual Studi, Sukses Memimpin Negeri" yang diselenggarakan Al Wasath Institute bekerja sama dengan Himapol Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (17/10).

Menurut dia, pemimpin yang dipilih secara legal konstitusional harus didukung dan dikritik jika memang ada yang keliru dalam kepemimpinannya. Oleh karena itu, dirinya mendukung setiap kepemimpinan yang berbasis nasionalis-religius.

"Kita harus siap mendukung setiap kepemimpinan nasional yang religius dan amanah serta merakyat," ucapnya.

Wakil Dekan FISIP UMJ, Djoni Gunanto mengatakan kepemimpinan bisa lahir dari golongan darah biru dan kepemimpinan yang diciptakan melalui organisasi. Kedua tipe kepemimpinan tersebut harus tetap berpijak pada basis spiritualitas yang kuat.

"Karena itu basis kepemimpinan harus diimbangi dengan pengalaman dan basis spiritual," ujarnya

Sementara itu, Ketua Umum DPP IMM, M Najih Prastiyo, menambahkan setiap kepemimpian harus memiliki gagasan kuat yang diperoleh dari basis keilmuan. Karenanya, pemimpin tidak boleh menihilkan basis spiritualitas dan intelektualitas.

Ketua Himapol UMJ, Dhiki Ramandha Putra mengajak mahasiswa untuk menerapkan aspek kepemimpinan berbasis spiritualitas dan intelektualitas di lingkungan terdekatnya, yakni kampus.

"Di Kampus ada banyak organisasi yang menyediakan pelatihan kepemimpinan dari situ kita bisa belajar", ucapnya.

Acara diskusi publik ini dibuka oleh Dekan FISIP UMJ, Ma'mun Murod Al-Barbasy dan diikuti berbagai aktivis organisasi intra dan ekstra kampus seperti kelompok Cipayung Plus.