WAG TOP100 gelar dialog tokoh Sumbar

id WAGTOP100, sumatera barat, info padang, sumbar, tokoh minang, pilgub sumbar

WAG TOP100 gelar dialog tokoh Sumbar

Dr. Abdullah Khusairi, MA, dosen UIN Imam Bonjol Padang (Ist)

Padang (ANTARA) - WhatsApp Group (WAG) harus menjadi wahana yang produktif, dimanfaatkan anggotanya untuk kepentingan bersama. Bukan sebaliknya, menjadi anomali. Wahana komunikasi tetapi memutuskan silaturrahmi hanya karena berbeda pandangan dan pilihan politik.

Menyadari hal tersebut, WAG TOP100 menjawab tantangan anggotanya yang terdiri dari pejabat daerah, pebisnis, bankir, seniman, budayawan, sastrawan hingga jurnalis, menggelar dialog tokoh Sumbar.

"Ini positif. Di tengah anomali media sosial yang sering memutuskan tali silaturrahmi karena perbedaan pandangan, justru admin WAG TOP100 memertemukan anggotanya di satu ruang dialog," ungkap Abdullah Khusairi, salah satu anggota WAG TOP100 yang akan didapuk menjadi moderator seperti rilis diterima sumbar.antaranews.com, Minggu.

Acara ini bertajuk "Seratus Tokoh Bicara untuk Sumbar ke Depan" akan digelar di Pangeran Beach Hotel, Minggu 29 September 2019.

"WAG TOP100 itu dinamis. Lingkup pembicaraannya luas dengan suasana yang kadang-kadang juga memanas, sering pula sejuk dan penuh tawa," ungkap dosen Komunikasi Penyiaran Islam UIN Imam Bonjol Padang ini.

Menurutnya, dialog para tokoh ini akan dibagi berbagai segmen, seperti Pariwisata, Digitalisasi, Pembangunan Ekonomi Daerah, Pemerintahan Nagari, Penegakan Hukum, dsb.

"Begitu banyak yang expert dalam bidang masing-masing anggota WAG TOP100. Sayang sekali, ide-ide itu tidak terkonsep. Admin TOP100 mengambil kesempatan ini. Rencananya akan disiarkan ke berbagai kanal media, juga dibukukan. Seingat saya, ini sudah beberapa kali digelar, sejak 2015. Hanya saja, yang sekarang digelar lebih meriah," ujarnya.

Kata Khusairi, beginilah esensi yang perlu digalakkan oleh banyak WAG agar produktif. Tidak hanya menjadi ajang menyebarnya hoax tetapi berbagi gagasan kemaslahatan ummat.

"Teknologi Informasi harusnya menjadi alat yang membantu kemajuan suatu bangsa bukan untuk meruntuhkan suatu bangsa," jelas dosen yang baru saja meraih gelar doktor ini.

Fenomena di banyak WAG, sejak politik identitas mengemuka, Pilgub, Pilpres, Pileg, yang mengemuka adalah egoisme, propaganda, bahkan perang kata-kata yang tak berkesudahan dari pagi hingga petang. Malahan lebih buruk, putusnya silaturrahmi. Malahan untuk satu dua kasus, ada yang sampai ke kantor polisi.

Kesadaran terhadap keterbatasan watak platform media sosial dan groups chat WAG dalam berdiskusi sangat rendah.

Ini bisa dimaklumi, karena ketidakmampuan mengirim pesan secara utuh. Hal yang berbeda jika berdikusi, berdialektika, di suatu meja sebagaimana kehidupan kita di Ranah Minang dengan budaya lapaunya.

Admin WAG TOP100 hanya tiga orang saja tak pernah bertambah; Jasman Rizal, Prof. Werry Darta Taifur, dan Khairul Jasmi. Jasman Rizal, yang tercatat sebagai Kabiro Humas Pemprov Sumbar dan selalu sering menyatakan di WAG TOP100 hanyalah seorang admin, tidak ada sangkut paut dengan jabatannya di Pemprov Sumbar. Begitu pula Werry Darta Taifur, guru besar Universitas Andalas dan Khairul Jasmi, Pemimpin Redaksi Singgalang.

"Dunia kini sudah begitu pesat maju dengan memanfaatkan dunia digital, masyarakat Sumbar kita dorong untuk itu. Mari kita mulai, semua belum terlambat," ujar Doni Oscaria salah seorang yang mengusulkan dialog tokoh, dalam komentarnya di dalam WAG TOP100.
Pewarta :
Editor: Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar