Miris, Sulteng tak lagi terima devisa dari kakao padahal komoditas primadona

id kakao,ekspor kakao,sulawesi tengah

Miris, Sulteng tak lagi terima devisa dari kakao padahal komoditas primadona

Warga menunjukkan biji kakao saat proses penjemuran di Teluk Raya, Kumpeh Hulu, Muarojambi, Jambi, Jumat (19/4/2019). Harga jual biji kakao kering di tingkat penampung setempat mulai bergerak naik dari Rp18 ribu per kilogram pada awal tahun 2019 menjadi Rp22 ribu per kilogram dalam bulan ini. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Palu (ANTARA) - Pemerhati kakao asal Sulawesi Tengah Achrul Udaya mengatakan sejak beberapa tahun terakhir ini daerah itu tidak lagi melakukan ekspor langsung biji kakao yang selama ini menjadi komoditas primadona petani di provinsi terletak di jazirah Pulau Sulawesi.

"Ironisnya, Sulawesi Tengah merupakan penghasil kakao terbesar, tetapi kini tidak mengekspor," katanya di Palu, Jumat.

Achrul mengatakan produksi kakao petani Sulawesi Tengah saat ini sekitar 165.000 ton dan dalam beberapa tahun ini hanya diantarpulaukan ke Surabaya.

"Jadi devisa dari ekspor biji kakao Sulawesi Tengah jelas tercatat di daerah itu, dan bukan Sulawesi Tengah," ujarnya.

Karena memang, semuanya eksportir kakao ada di Surabaya. Mereka datang membeli kakao produksi petani Sulawesi Tengah, lalu kemudian dibawa ke Surabaya dan dari sanalah baru diekspor ke berbagai negara tujuan.

Padahal, kata dia di era tahun 1990an s/d 2000 eksportir kakao mengekspor langsung komoditas perkebunan tersebut dari Pelabuhan Pantoloan Palu.

Dari Pelabuhan Pantoloan Palu, kakao diekspor ke berbagai negara konsumen seperti Amerika, China, Malaysia, dan Singapura, sehingga perolehan devisa ekspor nonmigas Sulawesi Tengah tercatat di daerah ini, letter of credit (LC)-nya dibuka di Palu.

Tetapi selama beberapa tahun terakhir ini, para eksportir hengkang dari Palu dan membuka LC di luar daerah. "Otomatis, Sulawesi Tengah hanyalah nama sebagai daerah penghasil kakao, tetapi tidak menikmati devisa," ujarnya.

Tidaklah heran jika devisa ekspor kakao Sulawesi Tengah nihil. Karena memang kita tidak ada ekspor kakao. "Yang ekspor kakao produksi petani Sulawesi Tengah adalah daerah lain," kata dia.

Dahulu kakao merupakan produk ekspor nonmigas Sulawesi Tengah yang setiap tahunnya menyumbangkan devisa terbesar di daerah ini.

Sulawesi Tengah melakukan ekspor perdana biji kakao langsung dari Pelabuhan Pantoloan Palu pada 1994. Saat itu masih era Gubernur Abdul Aziz Lamadjido.

Menurut dia, tidak ada jalan lain, Sulawesi Tengah harus kembali mengekspor langsung biji kakao.

"Jangan kita yang punya produk, tetapi tidak menikmati hasilnya secara optimal," kata Achrul yang juga Ketua Bidang Perdagangan Kadin Provinsi Sulawesi Tengah itu.

Kalau dahulu, eksportir membuka LC ekspor kakao di Palu, kenapa sekarang tidak?."Kita harus paksa eksportir untuk buka LC ekspor kakao di Palu,"ujarnya.

Apalagi, kata Achrul, kakao merupakan komoditas yang tidak akan pernah habis stoknya, selagi terus dikembangkan petani.

Tidak seperti tambang yang suatu saat akan habis. "Tetapi saya melihat justru pemerintah terbuai dengan hasil tambang yang beberapa tahun terakhir ini menyumbangkan devisa ekspor nonmigas terbesar," ucapnya.

Tetapi itukan tidak akan bertahan lama. Yang pasti hasil tambang suatu saat akan habis. Sedangkan kakao tidak akan pernah habis. "Ini yang tidak disadari oleh para pengambil dan pemangku kebijakan di daerah," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar