Gara-gara kabut asap, penjual kelapa muda di Pantai Padang sepi pembeli

id kelapa muda,berita padang,berita sumbar

Gara-gara kabut asap, penjual kelapa muda di Pantai Padang sepi pembeli

Anton (40), salah seorang pedagang kelapa muda di Pantai Padang, (Antara Sumbar/Laila Syafarud)

Padang, (ANTARA) - Para penjual kelapa muda di Pantai Padang,Sumatera Barat mengeluhkan sepinya pembeli karena kabut asap yang menyelimuti Kota Padang membuat warga enggan keluar rumah.

"Sampai sekarang pembeli masih sepi, karena kabut asap memang membuat warga tidak nyaman bepergian," kata salah seorang penjual kelapa muda Anton (40) di Padang, Selasa.

Ia mengatakan biasanya dari pukul 16.00 WIB sampai 18.00 WIB pengunjung pantai Padang ramai untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.

"Tapi sekarang matahari tersebut ditutupi kabut asap saat sore hari, sehingga banyak orang tidak berkunjung ke pantai," ujar dia.

Ia mengatakan sebelumnya kelapa muda miliknya terjual sebanyak 100 butir per hari, namun sekarang hanya 50 butir saja.

Kelapa muda miliknya dijual seharga Rp5.000 per butir.

"Biasanya penjualan kelapa muda pada Sabtu dan Minggu mencapai 160 butir per hari, namun semenjak kabut asap penjualannya hanya 60 butir per hari," ujar dia.

Selain itu penjual kelapa muda lainnya Miswati (50) juga mengeluhkan kondisi sepinya pembeli.

"Namun pada Sabtu lalu agak ramai karena ada acara wisuda di salah satu Perguruan Tinggi, sehingga mereka yang dari kampung menyempatkan mampir ke pantai," ujarnya.

Selain menjual kelapa muda, Miswati juga menjual langkitang Rp5.000 per gelas, kerupuk kuah juga Rp5.000, serta berbagai jenis minuman dingin.

Salah seorang pengunjung pantai Hikmatul Laili (24) dari Kabupaten Solok merasa kecewa karena tidak bisa melihat pemandangan laut lepas dengan bebas karena tertutup kabut asap.

"Saya ke Padang menghadiri wisuda adik di UNP, rencana mau menikmati pemandangan laut sebelum pulang kampung, namun masih tertutupi kabut asap," sambung dia.

Ia berharap kabut asap yang melanda Sumbar segera berakhir karena jika terus berlanjut akan berdampak buruk bagi kesehatan. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar