Biro Organisasi Sumbar Dorong penguatan ketatalaksanaan pemerintah

id Biro pemerintahan

Pertemuan Forum Komunikasi Pendayaagunaan Aparatur Daerah (Forkompanda) dengan tema penyusunan dan penerapan peta proses bisnis instansi pemerintah dalam rangka penguatan ketatalaksanaan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumbar. (ANTARA SUMBAR/ist)

Padang (ANTARA) - Biro Organisasi Sekretariat Provinsi Sumbar bersama Bagian Organisasi Kabupaten/ Kota se-Sumbar menggelar pertemuan Forum Komunikasi Pendayaagunaan Aparatur Daerah (Forkompanda) dengan tema penyusunan dan penerapan peta proses bisnis instansi pemerintah dalam rangka penguatan ketatalaksanaan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumbar.

"Ini salah satu bentuk tindaklanjut dari Reformasi Birokrasi yang dituangkan dalam Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi adalah pengembangan sistem ketatalaksanaan pemerintah, yang diarahkan untuk mendukung peningkatan efesiensi, transparansi dan akuntabilitas dalam proses kerja pemerintah," kata Kepala Bagian Ketatalaksanaan BiroOrganisasi Sumbar, Yasri Alfian di Bukittinggi, Kamis.

Sasaran menurutnya adalah tersusunnya dan terimplementasikannya proses bisnis dan Standar Operasional yang sederhana, sehingga meningkatkan efesiensi kerja dan sumber daya.

Sementara itu Kabid Penyiapan Kebijakan Kelembagaan Kementerian PAN RB, Ngalimun mengatakan kondisi sekarang, banyak terjadi apabila ada mandat baru langsung dibentuk struktur organisasinya, tanpa terlebih dahulu membuat desain organisasi seperti apa dan tidak membuat proses bisnisnya.

"Peta proses bisnis berguna untuk melihat ada kemungkinan terjadinya tumpang tindih tugas fungsi satu instansi dengan instansi lainnya," kata dia.

Saat ini kebanyakan beban kerja tidak seimbang, dalam artian ada perangkat yang kerja dari pagi hingga sore, ada pula yang kerja nya sedang sedang saja, dan ada pula cuma sekedar ambil absen.

Dengan adanya peta proses bisnis ini kita akan tau siapa berbuat apa, sehingga terjadi keseimbangan beban kerja antara unit satu dengan unit yang lain" ujarnya.

Dia juga mengatakan, untuk pemerintah daerah hingga sekarang rata rata penerapan peta proses bisnis ini masih sampai tahap penyusunan, belum ada yang memformalkan,sedangkan untuk di pusat sudah banyak yang menerapkan.

Sebetulnya peta proses bisnis ini bukan hal yang baru, dulu diatur di Permenpan nomor 12 tahun 2012, karena belum maksimal direvisi menjadi Permenpan nomor 19 tahun 2018" sebutnya.

Sedangkan untuk target, Ngalimun berujar bahwa setelah dilakukan sosialisasi, Kemenpan mengharapkan 2019 akhir sudah masuk semua, karena saat ini terdapat kesulitan dalam melihat Reformasi Birokrasi, apakah sudah berjalan dengan baik di daerah-daerah yang diimplementasikan dan dijabarkan kedalam standar operasional prosedur.

"Bagi daerah yang belum menerapkan tentu ada sanksi nya. Dalam Permenpan nomor 30 tahun 2018, jika ada penilaian terkait reformasi birokrasi tentu akan berpengaruh kepada pemeringkatan daerah tersebut, sanksi bukan perorangan tapi secara organisasi" ungkapnya.

Untuk di Sumbar sendiri, dia menekankan agar peta proses bisnis selesai 2 bulan kedepan, karena saat ini kita memberikan panduan panduan bagaimana cara menyusun dari visi, misi, tujuan dan sasaran yang ada dalam RPJMD, namun yang paling penting adalah komitmen bersama sehingga dalam menyelesaikan tugas ini.

Sementara itu Staf Ahli Gubernur Bidang Pembagunan, Kemasyarakatan dan SDM, M. Yani mengakui saat ini kondisi ketatalaksanaan pemerintah didaerah dalam proses penyelenggaraannya masih sering terjadi tumpang tindih kewenangan atau fungsi pemerintahan, benturan atau belum harmonisnya tata hubungan kerja antar satuan kerja/ instansi, penggunaan sumber daya organisasi yang masih kurang efisien, berlebihan dan menimbulkan pemborosan anggaran yang mencerminkan proses penyelenggaraan pemerintahan belum menunjukkan kondisi yang efektif, efisien dan akuntabel.

"Permasalahan tersebut merupakan menjadi pekerjaan rumah yang harus sama-sama kita perbaiki kedepan" ajaknya.

M. Yani menjelaskan efektivitas dan efiensi birokrasi pemerintah sangat terkait dengan proses bisnis yang digunakan oleh birokrasi dalam menghasilkan output dan outcome.

"Proses bisnis yang dimaksud ini bukan bernuansa komersil, ekonomi dan menghasilkan uang, namun mempermudah dan memperjelas seluruh aktifitas yang dilaksanakan oleh instansi-istansi pemerintah" sebutnya. (*)

Pewarta :
Editor: Mario Sofia Nasution
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar