BMKG imbau masyarakat lakukan aktivitas ramah lingkungan jaga kualitas udara

id BMKG,kualitas udara sumbar,berita sumbar,sumbar terkini,berita bukittinggi,bukittinggi terkini

BMKG imbau masyarakat lakukan aktivitas ramah lingkungan jaga kualitas udara

BMKG Stasiun GAW merilis kondisi udara Sumbar selama Agustus 2019 di level sedang. Masyarakat diimbau melakukan aktivitas ramah lingkungan untuk menjaga kualitas udara di level baik. (Foto BMKG Stasiun GAW)

Bukittinggi, (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Sumatera Barat mengimbau masyarakat melakukan aktivitas ramah lingkungan untuk membantu menjaga kualitas udara daerah setempat berada di level baik.

Kepala BMKG Stasiun GAW Wan Dayantolis dalam keterangannya dikonfirmasi dari Bukittinggi, Rabu, mengatakan beberapa aktivitas yang dapat dilakukan yaitu hemat energi, tidak membakar sampah dengan menerapkan reduce, reuse dan recycle (3R) serta tidak membakar lahan.

BMKG Stasiun GAW mencatat selama Agustus 2019 konsentrasi polusi partikulat (PM10) secara umum berada dalam level sedang dengan konsentrasi tertinggi sebesar 60 µgram/m3 terjadi pada 19 Agustus.

Level sedang berada dalam rentang 50-150 µgram/m3 dengan nilai ambang batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan di udara ambien yaitu 150 µgram/m3.

Sementara selama Januari hingga Juli 2019, tercatat konsentrasi polusi partikulat berada di level baik yaitu dalam rentang 0 sampai di bawah 35 µgram/m3.

Polusi partikulat merupakan satu dari lima zat racun di udara yang digunakan untuk menentukan standar kualitas udara dalam Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Zat mikroskopik tersebut mengambang di atmosfer dan dapat bertahan hingga berminggu-minggu yang membuat kekaburan udara, berkurangnya jarak pandang dan menurunkan kualitas udara.

Selanjutnya, ia menerangkan pada dasarian II September 2019 diprakirakan curah hujan rendah di wilayah tengah hingga selatan Sumatera dengan arah angin dari timur dan selatan Sumatera bergerak ke Sumbar.

Arah tersebut merupakan lokasi terpantau dan terjadinya hotspot dan kebakaran lahan.

"Karena kondisi-kondisi tersebut, masyarakat diimbau agar ikut mencegah penurunan kualitas udara dengan melakukan aktivitas ramah lingkungan," katanya.

Pada Rabu (11/9) pagi, BMKG menyatakan 1.211 titik panas yang menjadi indikasi awal kebakaran hutan dan lahan "mengepung" wilayah Sumatera.

Sebaran titik panas yaitu 496 di Jambi, 305 titik di Sumatera Selatan, 258 titik di Riau, 77 titik di Bangka Belitung, 11 titik masing-masing di Sumbar dan Kepulauan Riau, 10 titik di Sumatera Utara dan satu titik di Bengkulu. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar