Puluhan kapal wisata Pariaman tertahan di dermaga karena pendangkalan

id Kapal wisata,pariaman,sumbar

Puluhan kapal wisata Pariaman tertahan di dermaga karena pendangkalan

Seorang warga Pariaman,  Sumbar sedang berjalan di pasir yang menumpuk di ujung muara Pariaman yang menutup akses kapal wisata pulau dan nelayan di daerah itu, Kamis (8/8). (Antara Sumbar/Aadiaat MS)

Pariaman, (ANTARA) - Puluhan kapal wisata di Kota Pariaman, Sumatera Barat tidak bisa berlayar mengantarkan wisatawan ke pulau, karena tertahan di dermaga akibat terjadinya pendangkalan dan penumpukan pasir di ujung muara sungai.

"Pendangkalan terjadi disebabkan angin dari arah Selatan sehingga mengubah arah ombak yang berakibat pada penumpukan pasir di ujung muara Pariaman," kata pengusaha kapal wisata pulau Zainal Efendi di Pariaman, Kamis.

Ia mengatakan karena pendangkalan tersebut setidaknya lebih dari 40 unit kapal wisata tidak bisa melayani wisatawan ke pulau, bahkan belasan kapal nelayan tidak bisa melaut.

Pemerintah daerah berencana pada awal 2020 akan mengubah arah muara, agar nantinya tidak mengalami hal yang sama namun menurutnya realisasi tersebut masih lama sementara masalah penumpukan pasir ini perlu tindakan cepat.

"Langkah cepatnya dengan memasang mesin untuk menyedot pasir, dan membuangnya sehingga kapal bisa bisamelewatinya," katanya.

Ia menyadari pendangkalan di ujung muara tersebut disebabkan oleh alam, namun menurutnya hal tersebut bisa diatasi dengan pengerukan..

"Oleh karena itu kami berharap Pemerintah Kota Pariaman segera menangani terkait hal ini," ujarnya.

Sementara pemilik kapal nelayan Darmawan mengatakan pada awal terjadinya pendangkalan, pihaknya memaksakan memasukkan kapal ke dermaga yang berada di muara sehingga berakibat pada kerusakan kapal.

"Setidaknya ada dua hingga tiga unit kapal yang rusak karena memaksakan masuk," kata dia.

Karena pendangkalan ini lanjutnya, saat ini ada dua kapal yang tidak bisa memasuki muara untuk bersandar di dermaga.

Sementara nelayan yang kapalnya bersandar di muara Pariamanmengalami kerugian puluhan juta karena tidak bisa melaut. (*)

Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar