Payakumbuh, jadi lokasi Lapan Agam amati gerhana bulan parsial

id gerhana bulan parsial,Lapan Agam

Payakumbuh, jadi lokasi Lapan Agam amati  gerhana bulan parsial

Ilustrasi - Foto kombo fase gerhana bulan total terlihat di Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (28/7) dini hari. Gerhana bulan total "Micro Blood Moon" tersebut merupakan yang terlama pada abad ini, dengan total waktu termasuk fase penumbra dan parsial selama enam jam lebih. ANTARA SUMBAR/Iggoy el Fitra/Maril/18

​​​​​​​Bukittinggi (ANTARA) - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Kabupaten Agam, Sumatera Barat melaksanakan pengamatan gerhana bulan parsial yang berlangsung Rabu (17/7) dinihari di Payakumbuh.

"Jika cuacanya cerah, kami laksanakan pengamatan di Hotel Mangkuto di Payakumbuh. Alternatif lokasi lainnya di mess Lapan Agam di daerah Gadut," kata Staf Perekayasa Bidang Atmosfer Lapan Agam Ridho Pratama dihubungi dari Bukittinggi, Senin.

Ia mengatakan pengamatan itu membutuhkan dukungan kondisi cuaca cerah namun berdasarkan informasi prakiraan cuaca untuk dua hari ke depan, diprediksi akan berawan tetapi pihaknya tetap mempersiapkan peralatan untuk melakukan pengamatan.

Gerhana bulan parsial terangnya, terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan. Di peristiwa itu sebagian piringan bulan memasuki bayangan bumi.

Di seluruh Indonesia, fenomena antariksa tersebut dapat diamati dengan mata telanjang dan dengan dukungan kondisi cuaca cerah namun tidak semua fase dapat terlihat.

"Posisi yang paling bagus untuk melihat adalah posisi kita yang berada di wilayah barat," ujarnya.

Gerhana bulan parsial memasuki fase penumbra pada Rabu(17/7) sekitar pukul 1.30 WIB dinihari kemudian masuk fase gerhana bulan sebagian pada pukul 3.00 WIB dan puncaknya terjadi sekitar pukul 4.30 WIB.

Posisi bulan berada di sebelah Barat.

Pengamatan yang dilakukan Lapan akan menghasilkan data berupa foto dan video untuk informasi data fenomena antariksa. Bagi masyarakat, pengamatan bermanfaat sebagai edukasi.

"Waktu terjadinya memang di jam istirahat sehingga kami perkirakan tidak ada warga yang akan ikut mengamati, namun sebenarnya pengamatan ini terbuka. Jika ada warga yang mau ikut kami persilakan," katanya.

Sebelumnya pihaknya berencana melakukan pengamatan di area publik seperti Jam Gadang atau di Lapangan Kantin Bukittinggi namun karena posisi bulan berada di sebelah Barat, lokasi itu tidak jadi dipilih karena terhalang bangunan yang ada di arah tersebut.

"Kini pilihannya di Payakumbuh. Jika memang cuacanya kurang mendukung, kami lakukan pengamatan di mess Lapan saja di daerah Gadut," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar