Agar tetap lestari, Taman Budaya gelar festival randai

id Festival Randai,Taman Budaya,Dinas Kebudayaan Sumbar

Penampilan grup randai Padang Panjang dengan judul Magek Manandin. (ANTARA SUMBAR/Laila Syafarud)

Padang (ANTARA) - Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya menggelar festival randai se Sumatera Barat, yang merupakan program tahunan Dinas Kebudayaan provinsi itu.

Kepala Taman Budaya Sumatera Barat Muasri di Padang, Jumat mengatakan festival agenda tahunan dalam pembinaan seni budaya daerah yang salah satu tujuannya yaitu untuk mengembangkan kembali kesenian tradisional Minangkabau.

"Setiap tahun festival ini berbeda-beda, sebelumnya berupa tarian, silek dan tahun ini kita adakan festival randai," sambung dia.

Festival randai tersebut diikuti oleh 14 kabupaten dan kota dari 17 undangan yang telah disebarkan.

Randai merupakan pertunjukan seni tradisional Minangkabau berupa teater yang dimainkan oleh beberapa orang dalam bentuk lingkaran dengan gerakan berbentuk silek yang diiringi oleh musik.

Kegiatan tersebut diadakan selama tiga hari yaitu dimulai pada hari ini 12 Juli 2019 hingga hari Minggu 14 Juli 2019 di dekat Pasar Raya Padang.

"Penampilan randai hari ini ditampilkan oleh lima grup randai, penampilan pertama sudah selesai dari grup randai Pariaman," sambungnya.

Festival sebelumnya dilaksanakan di Batusangkar dan festival silat juga pernah diadakan di Payukumbuh.

"Festival ini memang selalu kami adakan di lapangan, sehingga masyarakat juga dapat menikmati," katanya.

Total hadiah untuk lima penampil terbaik sekitar Rp50.000.000, selain itu semua peserta juga difasilitasi sebesar Rp3.000.000 per masing - masing grup randai.

"Tujuannya untuk memudahkan peserta mengikuti festival," katanya.

Pendaftaran festival randai tersebut sudah dimulai sejak bulan Maret dengan mengundang 17 kabupaten dan kota untuk mengikuti workshop yang diadakan selama dua hari di gedung taman budaya sumbar.

"Semoga dengan adanya festival ini dapat menghadirkan seni budaya yang masih tetap baru di tengah-tengah masyarakat sehingga seni budaya kita tidak di kalahkan oleh seni budaya lainnya yang mungkin tidak sesuai dengan nilai budaya kita," harapnya.

Ia juga mengatakan sebagaimana yang disampaikan dalam pepatah adat bahwa adat dipakai baru, kain dipakai usang.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar