Hasil tangkapan nelayan Agam berkurang 50 persen

id nelayan

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Agam, Arman saat melihatkan hasil tangkapan sebelum terumbu karang rusak. (ANTARA SUMBAR/ Ist)

Lubuk Basung (ANTARA) - Hasil tangkapan nelayan di Tiku, Kecamatan Tanjungmutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berkurang sekitar 50 persen setelah terumbu karang di lokasi tangkapan mengalami rusak diduga akibat "bom ikan".

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Agam, Arman di Lubukbasung, Sabtu, mengatakan sebelum terumbu karang rusak hasil tangkapan nelayan sekitar 15 keranjang atau sekitar 750 kilogram setiap melaut.

Namun setelah terumbu karang rusak hasil tangkapan hanya tujuh keranjang atau 350 kilogram setiap melaut.

"Satu keranjang dengan berat sekitar 50 kilogran dan hasil tangkapan itu berkurang semenjak beberapa tahun lalu," katanya.

Ia mengatakan hasil tangkapan itu berkurang setelah terumbu karang di perairan Tiku mengalami rusak akibat nelayan dari Air Bangis, Pasaman Barat, Sibolga, Sumatera Utara dan daerah lain menangkap ikan diduga menggunakan bom dan alat tangkap jaring dasar.

Dengan kondisi itu, hasil tangkapan nelayan kecil yang menggunakan kapal penangkapan ikan dibawah 10 gros ton (GT) menggunakan pancing, jaring insang dan lainnya berkurang.

Ia menambahkan nelayan di Tiku pernah menemukan para nelayan dari luar Agam menangkap ikan menggunakan alat tangkap tersebut.

Namun mereka tidak bisa bertindak banyak karena berdampak terjadinya gesekan di tengah laut.

"Saya telah melaporkan kondisi itu ke Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam untuk menyikapi itu," katanya.

Tempat terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Ermanto menambahkan pihaknya telah melaporkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, karena wewenang kelautan sudah di pegang penuh oleh pemerintah provinsi.

"Kita berharap keluhan nelayan Tiku ini segera ditindak lanjuti dan nelayan diminta segera menghubungi pihak berwajib apabila menemukan penangkapan menggunakan bom dan alat tangkap lainnya," katanya.

Ermanto mengimbau nelayan untuk bisa memenuhi aturan yang berlaku dan sama-sama menjaga laut serta melestarikan terumbu karang.

Penangkapan ikan menggunakan bom dan jaring dasar bisa dicegah jika masyarakat ikut serta dalam pengawasan.

"Menjaga laut adalah tanggung jawab bersama, kerusakan yang dibuat sekarang akan berdampak kepada anak cucu kita nantinya," katanya.***
Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar