Cabai merah jadi penyumbang inflasi tertinggi di Padang

id inflasi padang, cabai merah, bps

Cabai merah jadi penyumbang inflasi tertinggi di Padang

Pedagang cabal di Pasar Raya Padang (Antara Sumbar/Laila S)

Padang, (ANTARA) - Kenaikan harga cabai merah usai Idul Fitri 1440 Hijriah membuat komoditas dengan rasa pedas itu kembali menjadi penyumbang inflasi di Padang pada Juni 2019 berdasarkan data yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat.

"Pada Juni 2019 Padang mengalami inflasi bulanan sebesar 1,07 persen, cabai merah menjadi penyumbang tertinggi dengan andil 0,85 persen," kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Senin.

Selain cabai merah, bawang merah dan emas perhiasan juga menjadi penyumbang inflasi dengan andil masing-masing 0,051 persen dan 0,03 persen.

Tidak hanya itu sewa rumah, jus buah, bimbingan belajar, sate, tomat sayur , kacang panjang dan cabai hijau juga jadi penyumbang inflasi di Padang.

Sebaliknya sejumlah komoditas strategis mengalami penurunan pada Juni 2019 yaitu bawang putih, petai, pepaya, beras, minyak goreng, sepat siam, ayam, bayam dan seragam sekolah wanita.

Ia memaparkan dari 23 kota di Sumatera, 22 kota mengalami inflasi dan satu kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 2,25 persen dan terendah di Batam 0,24 persen.

Sementara Padang menduduki urutan ke-7 dari semua kota yang mengalami inflasi di Sumatera dan urutan 11 secara nasional.

Sebelumnya harga sejumlah komoditas di antaranya cabai merah dan bawang merah naik pada sejumlah pasar tradisional di Padang karena kekurangan pasokan.

Salah seorang pedagang, Donal (45) di Padang menyebut harga cabai naik cukup tinggi yang sebelumnya sekitar Rp42 ribu per kilogram naik menjadi Rp55.500 per kilogram.

Sementara bawang merah yang dua hari lalu dijual Rp33.500 per kilogram sekarang naik menjadi Rp38 ribu per kilogram.

Kenaikan harga itu disebabkan menipisnya stok pedagang karena pasokan dari daerah sentra cabai dan bawang tidak masuk.

"Barang dari Jawa tidak masuk, sementara komoditas lokal banyak yang dijual ke provinsi tetangga seperti Sumatera Utara," katanya.

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar