Tiket mahal, okupansi hotel di Payakumbuh turun hingga 20 persen

id Hotel Grand Narasaki,Payakumbuh,sumbar,objek wisata,hotel,wisma

Hotel Grand Narasaki Kota Payakumbuh. (Antara Sumbar/Syafri Ario)

Payakumbuh, (ANTARA) - Tingginya tarif tiket pesawat mengakibatkan tingkat hunian hotel (okupansi) di Kota Payakumbuh, SumateraBarat menurun hingga 20 persen.

"Kondisinyasama dengan hotel di daerah lain, kenaikan harga tiket pesawat juga berdampak terhadap turunnya hunian hotel di Payakumbuh," kata General Manager Hotel MangkutoMohammad Hendradi Payakumbuh, Sabtu.

Ia mengatakan menurunnya tingkat hunian Hotel Mangkutosudah terasa sejak awal 2019 bersamaan kenaikan harga tiket pesawat.

Biasanya banyak tamu dari luar menginap tapi sekarang karena harga tiket mahal banyak yang tidak bisa pulang kampung.

Tamu yang menginap di Hotel Mangkutokebanyakan tamu dari luar provinsi untuk tujuan berwisata maupun perantau yang pulang kampung.

Perantau asalPayakumbuh yang pulang kampung untuk satu atau dua hari menginap di hotel. Merekabiasanya perantau dari Jakarta, Bandung dan Kalimantan.

"Walaupun ada keluarga mereka di sini, tapi kalau agak ramai biasanya mereka mencari hotel," ujarnya.

Para perantau ini sangat sedikit yang pulang kePayakumbuh dengan alasan tiket mahal, otomatis hotel kehilangan tamu.

Sepinyahunian hotel juga sangat terasa saat libur panjang ini karena biasanya selalu penuh.

"Mudah-mudahan harga tiket bisa normal kembali agar pariwisatakembali bergairah," harapnya.

General Manager Grand Narasaki Hotel,Syatria juga mengatakan hotelnya mengalami penurunan pengunjung hingga 10 persen.

"Tamu yang menginap di hotel kami juga menurun hingga 10 persen sejak naiknya harga tiket pesawat," ujar Syatria.

Selain hotel wisma di Payakumbuh juga merasakan hal serupa, mereka juga kehilangan tamu sekitar 10 persen pascatingginyaharga tiket pesawat.

"Wisma biasanya jadi pilihan menginap jika hotel penuh, tapi sekarang berkurang sejak harga tiket mahal," kata Owner Wisma Farabi. (*)

Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar