Perantau dari berbagai daerah ziarahi makam Syekh Burhanuddin

id Padang Pariaman

Belasan peziarah menunggu giliran masuk ke lokasi Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar untuk membayar nazar,  Minggu (9/6). (Antara Sumbar/Aadiaat M. S)  (ANTARA SUMBAR / Aadiyat MS)

Padang Pariaman (ANTARA) - Perantau yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat (Sumbar) memanfaatkan libur lebaran untuk menunaikan nazar dan berziarah di Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman.

Salah seorang warga Bukittinggi yang menemani anaknya ke makam tersebut Bujang (59) mengatakan bahwa mereka melepaskan nazar karena sebelumnya cucunya sakit di Palembang.

"Sekarang dia sudah sembuh, maka ketika anak saya pulang kami melepas nazar untuk kesembuhan cucu saya," katanya.

Ia mengatakan kedatangannya ke makam tersebut khusus untuk ziarah dan membayar nazar atau tidak ada agenda wisata ke sejumlah objek wisata di Padang Pariaman atau sekitarnya.

"Selepas dari makam rencananya kami shalat Zuhur dulu, makan, lalu pulang," ujarnya.

Ia menyampaikan meskipun dirinya bukan Jamaah Tarikat Syatariah dan tidak mengetahui banyak tentang Syekh Burhanuddin namun menurutnya tokoh tersebut pantas dihormati.

Sama halnya dengan Joni (25) asal Payakumbuh kedatangannya ke makam tersebut juga untuk menunaikan nazar karena anaknya usia tujuh bulan sakit.

Ia menyampaikan anaknya sakit ketika mereka merantau ke Kerinci namun penyakit tersebut telah sembuh beberapa bulan yang lalu.

"Karena sekarang masa libur lebaran kami manfaatkan untuk menunaikan nazar," kata dia.

Ia menyampaikan mereka tiba di makam sekitar pukul 11.00 WIB dan menunggu giliran karena banyak perantau dan warga yang ingin berziarah serta membayar nazar di makam tersebut.

"Kami menunggu selama setengah jam, setelah itu dipersilahkan masuk ke lokasi makam," ujar dia.

Rencananya, lanjutnya setelah membayar nazar ia dan keluarga kembali lagi ke Payakumbuh atau tidak mengunjungi objek wisata di daerah itu.

Pewarta :
Editor: Mario Sofia Nasution
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar