ACT gelar konser kemanusiaan untuk Palestina di Bukittinggi

id ACT Sumbar,konser kemanusiaan untuk Palestina ,Maydani,Syekh Abdallah

Grup nasyid Maydani mengisi konser kemanusiaan untuk Palestina di aula Stikes For de Kock Bukittinggi, Minggu (19/5/2019) (ANTARA SUMBAR/ Ira Febrianti)

Bukittinggi (ANTARA) - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Cabang Sumatera Barat menggelar konser kemanusiaan untuk Palestina yang dilaksanakan di lingkungan kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) For de Kock Bukittinggi, Minggu.

Aksi tersebut digelar untuk menggugah kedermawanan warga kampus guna membantu warga Muslim di Palestina yang menghadapi krisis di berbagai bidang akibat pendudukan Israel.

Kepala ACT Cabang Sumbar Zeng Wellf di Bukittinggi, Minggu, mengatakan ACT berupaya meningkatkan penyaluran bantuan bagi Muslim Palestina sehingga usaha untuk menggalang donasi juga perlu dimasifkan.

Selama Ramadhan 1440 Hijriah, dengan dukungan donasi dari masyarakat ACT menargetkan dapat mendistribusikan paket pangan bagi lebih dari 5.000 keluarga, 500 porsi makanan untuk sahur dan berbuka serta 1,6 juta liter air bersih.

"Masih banyak bentuk bantuan lain yang dibutuhkan Palestina misalnya kebutuhan listrik. Hanya dua sampai tiga jam sehari dialiri listrik sehingga ini jadi penting saat ada yang butuh pertolongan medis," jelasnya.

Konser kemanusiaan untuk Palestina diisi oleh grup nasyid Maydani serta Syekh Abdallah Hasan Ahmad Aboudan, seorang syekh dari Palestina yang menceritakan bagaimana kondisi masyarakat di negara itu.

Syekh Abdallah menyebutkan warga Palestina membutuhkan banyak bantuan di bidang kesehatan.

Dari pengalaman yang telah dilaluinya, banyak warga Palestina yang meninggal disebabkan karena keadaan kurangnya stok obat atau karena tidak mencukupinya peralatan medis, sementara warga dilarang keluar dari Gaza untuk memperoleh bantuan medis.

"Hari ini saya berkunjung ke kampus bidang kesehatan mengingatkan saya pada perawat yang tewas tertembak oleh Israel. Perawat itu pekerjaan mulia, saya harap mahasiswa kelak bisa mengabdikan diri membantu masyarakat yang membutuhkan," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa masyarakat di sana mendapat banyak tindak kekerasan termasuk larangan dikumandangkan azan di Masjid Al Aqsha.

"Sampai sekarang masih ada masyarakat yang bertahan di Al Quds. Mereka akan tetap bertahan sampai kemerdekaan bisa diraih," ujarnya.

Sementara dalam kesempatan itu, ACT juga menayangkan video amatir yang menunjukkan serangkaian serangan yang telah dilancarkan oleh Israel sejak 2014 terhadap Palestina baik melalui darat maupun udara.

Penayangan video ditujukan untuk menggugah kepedulian warga kampus dan masyarakat yang hadir dalam acara itu agar memberikan dukungan terbaiknya yang dapat diserahkan secara pribadi atau dikumpulkan bersama di komunitas dan organisasi yang ada.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar