Pedagang: berat bawang putih impor berkurang karena menyusut

id bawang putih,bawang impor,OP bawang putih

(ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Payakumbuh (ANTARA) - Berkurangnya berat bawang putih impor dari 20 kilogram menjadi sekitar 17 hingga 19 kilogram per karung setelah sampai di Payakumbuh karena terjadi penyusutan berat selama di perjalanan.

"Kalau bawang ini memang seperti itu pasti berkurang beratnya dari pertama dikirim karena bawang selama perjalanan mengalami penyusutan berat," ujar Pedagang bawang putih Putra di Payakumbuh, Selasa.

Seperti diketahui dua daerah di Sumatera Barat yakni Kota Padang dan Kota Payakumbuh mendapatkan jatah bawang putih dari pemerintah pusat sebanyak 46 ton.

"Padang 30 ton dan Payakumbuh 16 ton, bawang putih ini untuk menjaga kestabilan harga di Payakumbuh," ujar Asisten II Setdako Payakumbuh Elzadaswarman.

Setiap pedagang di Payakumbuh, kata Elzadaswarman mendapat jatah sebanyak 200 kg atau 10 karung bawang putih yang diimpor dari Tiongkok tersebut.

Namun, beberapa pedagang awalnya mempertanyakan kepada Pemkot Payakumbuh kenapa berat bawang putih yang dijatahkan 20 kg per karung berkurang menjadi 17 hingga 19 kg dan mereka menduga ada indikasi korupsi impor bawang.

Salah seorang pedagang bawang putih di Pasar Ibuh, Hendra menjelaskan lumrah saja berkurang beratnya karena memang karakter bawang mengalami penyusutan setelah beberapa hari.

"Ini disebut barang muda, jadi sudah pasti susut, mungkin pedagang yang masih baru banyak yang tidak tahu jadi ini memang biasa terjadi bukan karena di korupsi," jelasnya.

Menurutnya pasokan bawang putih tersebut sangat membantu pedagang dan masyarakat karena efektif menurunkan harga bawang putih yang sebelumnya naik.

Selama ini, kata Hendra bawang putih memang selalu mengandalkan produk impor karena Indonesia belum mampu menghasilkan bawang putih yang berkualitas.

"Kan sudah dicoba Menteri Pertanian menanam bibitnya di Indonesia, tumbuh tapi kecil-kecil jadi tetap tidak bisa optimal tumbuhnya seperti di Cina," jelasnya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar