Razia petasan Polres Agam amankan tiga dus, penjual diminta buat surat perjanjian

id razia petasan,agam,sumbar,polisi

Anggota Polres Agam sedang memperlihatkan barang bukti petasan yang disita dari pedagang di Pasar Usang Lubukbasung, Senin (13/5). (Dok Polres Agam)

Lubukbasung, (ANTARA) - Kepolisian Resor Agam, Sumatera Barat berhasil mengamankan tiga dus petasan berbagai jenis dan merek dari pedagang di Pasar Usang Lubukbasung.

Kapolres Agam AKBP Ferry Suwandi didampingi Kasat Reskrim Iptu Muhammad Reza di Lubukbasung, Selasa, mengatakan petasan itu diamankan dari dua orang pedagang di Pasar Lama Lubukbasung saat Operasi Bina Kusuma dan Oprerasi Cipta Kondisi.

"Tidak ada perlawanan dari pedagang saat pengamanan itu. Saat ini petasan telah diamankan di Mapolres setempat," katanya.

Sebelum petasan itu diamankan, anggota membunyikan di depan pedagang untuk memastikan apakah petasan itu memiliki bunyi yang keras dan bisa mengganggu warga.

Setelah itu petasan dan pedagang langsung dibawa ke Mapolres setempat dan pedagang membuat surat pernyataan di atas materai 6.000 agar tidak menjual petasan lagi.

"Kedua pedagang langsung dilepas setelah mereka menandatangani surat pernyataan itu. Petasan ini akan dimusnahkan dalam waktu dekat," kata dia.

Ia menambahkan razia petasan itu rutin digelar selama Ramadhan agar tidak ada lagi beredar petasan di wilayah hukum Polres tersebut.

Dengan cara itu, pelaksanaan ibadah puasa dan shalat tarwih akan berjalan dengan baik tanpa terdengar bunyi petasan.

"Razia ini akan rutin digelar di seluruh pasar tradisional, pedagang dan lainnya," katanya.

Sementara Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Membela Bersama Membangun Bangsa Agam, Lukman mendukung Polres setempat menertibkan petasan, karena bunyi petasan itu sudah mulai terdengar di daerah itu.

Keberadaan petasan ini sangat mengganggu warga yang sedang melaksanakan shalat tarwihdan yang istirahat.

"Petasan ini juga dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran, perkelahian antar-kelompok dan lainnya," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar