Irak, AS dan China kerja sama energi senilai 53 miliar dolar

id produksi minyak irak,exxon mobile,petrochina

Ilustrasi 20110210020912minyakapbn080211-1.

Bagdad, (ANTARA) - Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi, Selasa, mengatakan bahwa Irak akan menandatangani kesepakatan energi senilai 53 miliar dolar dengan perusahaan Amerika Serikat (AS), Exxon Mobil, dan PetroChina China untuk meningkatkan produksi minyaknya.

"Pemerintah mendukung Kementerian Perminyakan Irak untuk menandatangani perjanjian dengan Exxon Mobil dan PetroChina senilai 53 miliar dolar AS, yang merupakan proyek besar," kata Abdul Mahdi pada konferensi pers setelah pertemuan kabinet mingguan.

Proyek yang disebutnya memompa "air laut" ke ladang minyak di Irak itu akan meningkatkan produksi minyak di dua ladang minyak Nahr Bin Umar dan Artawi menjadi 500.000 barel per hari (bph) dari sekitar 100.000 menjadi 125.000 bph.

Dia mengatakan proyek itu akan menyediakan puluhan ribu pekerjaan dan Irak akan menghasilkan sekitar 400 miliar dolar selama 30 tahun setelah kesepakatan itu berlaku, yang menunjukkan bahwa ada diskusi mengenai keuntungan tambahan.

Mahdi membantah ada hubungan antara mega-proyek Irak tersebut dengan pembebasan AS untuk Irak terkait urusan dengan Iran yang sedang berada di bawah sanksi AS.

"Soal ini (megaproyek) dimulai pada 2015, dan itu tidak ada hubungannya dengan sanksi yang dijatuhkan pada Iran. Masalah ini berkaitan dengan ekonomi Irak dan sektor minyak Irak," katanya.

Ia menambahkan Irak perlu memompa sumur minyak untuk menjaga produksi minyak stabil.

Pernyataan Mahdidikemukakan setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk tidak menerbitkan kembali keringanan sanksi yang memungkinkan importir utama untuk terus membeli minyak dari Iran ketika keringanan itu berakhir awal Mei, dalam upaya meningkatkan tekanan pada Iran.

Mahdi mengatakan kesepakatan dengan dua perusahaan minyak (Exxon Mobil dan PetroChina) adalah sebuah awal karena diskusi lebih lanjut akan diadakan untuk mencapai kesepakatan akhir.

Dengan proyek sebesar itu, Irak berupaya memperbaiki ekonomi yang memburuk dan memberikan kesempatan kerja, serta meningkatkan layanan publik di negara itu. Ekonomi Irak sangat bergantung pada ekspor minyak mentah yang menyumbang lebih dari 90 persen pendapatan negara itu. (*)

Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar