Harga minyak naik dipicu ketegangan perdagangan

id harga minyak, minyak WTI,minyak Brent

Ilustrasi - harga minyak mentah naik. (ANTARA News/Ridwan Triatmodjo)

New York, (ANTARA) - Harga minyak berjangka naik tipis dalam perdagangan yang fluktuatif pada Senin (Selasa pagi WIB), karena meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga lebih tinggi setelah menyentuh tingkat terendah satu bulan, menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump bahwa ia mungkin akan menaikkan tarif barang-barang China.

Minyak mentah berjangka Brent naik 39 sen AS menjadi 71,24 dolar AS per barel. Patokan minyak global sebelumnya merosot ke 68,79 dolar AS per barel, tingkat terendah sejak 2 April.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 31 sen AS menjadi 62,25 dolar AS per barel. Tingkat terendah sesi WTI adalah 60,04 dolar AS per barel, terlemah sejak 29 Maret.

Pembelian tambahan dipicu setelah WTI menembus 62 dolar AS per barel di perdagangan sore, kata Bob Yawger, direktur energi berjangka Mizuho di New York.

Amerika Serikat sedang mengerahkan kapal induk dan satuan tugas pembom ke Timur Tengah untuk mengirim pesan yang jelas kepada Iran bahwa setiap serangan terhadap kepentingan AS atau sekutunya akan bertemu dengan "kekuatan yang tanpa kompromi," kata penasihat keamanan nasional AS John Bolton pada Minggu (5/5/2014).

Perkembangan di Timur Tengah tersebut mendorong premi risiko ke pasar.

Pejabat Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengatakan dia telah menyetujui pengiriman armada kapal induk dan pesawat-pesawat pembom ke Timur Tengah karena "ancaman yang dapat dipercaya oleh pasukan rezim Iran".

"Anda melihat meningkatnya ketegangan geopolitik," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.

Harga turun pada awal perdagangan setelah Trump mengatakan di Twitter pada Minggu (5/5/2019) bahwa tarif barang-barang senilai 200 miliar dolar AS akan dinaikkan pada Jumat (10/5/2019) menjadi 25 persen, membalikkan keputusan Februari untuk mempertahankannya pada 10 persen karena kemajuan dalam pembicaraan perdagangan.

Trump pada Senin (6/5/2019) tampaknya membela pernyataan dia pada Minggu (5/5/2019), mengutip defisit perdagangan antara Amerika Serikat dan China. "Maaf, kami tidak akan melakukan itu lagi!" cuit Trump.

Komentar tersebut mengkhawatirkan para investor tentang kemajuan pembicaraan perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia dan memicu ketakutan bahwa ketegangan yang sedang berlangsung dapat mengganggu permintaan minyak global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang mengatakan kepada sebuah konferensi pers pada Senin (6/5/2019) bahwa delegasi China masih bersiap untuk pergi ke Amerika Serikat guna pembicaraan perdagangan.

"Kami juga sedang dalam proses memahami situasi yang relevan," katanya.

Dalam industri minyak, ada tanda-tanda kenaikan lebih lanjut dalam produksi dari Amerika Serikat, di mana produksi minyak mentah telah melonjak lebih dari dua juta barel per hari (bph) sejak awal 2018 ke rekor 12,3 juta barel per hari. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar