Ekonomi Sumbar 2019 diproyeksikan tumbuh cukup tinggi, tembus 5,5 persen.

id proyeksi ekonomi Sumbar

Kepala BI perwakilan Sumbar Wahyu Purnama. (Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi)

Padang, (ANTARA) - Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) pada 2019 tumbuh cukup tinggi berada pada kisaran 5,1 persen hingga 5,5 persen.

"Pada 2019 ekonomi Sumatera Barat diperkirakan akan membaik didrorong oleh masifnya kebijakan pemerintah menjelang dan selama pelaksanaan pemilu dan pilpres," kata Kepala BI perwakilan Sumbar Wahyu Purnama di Padang, Sumbar, Senin dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sumbar Triwulan I 2019.

Menurut dia tingginya aktivitas Lembaga Non Profit Rumah Tangga selama menjelang pemilu dan pilres (pemilihan presiden) akan ditransmisikan kepada pertumbuhan ekonomi rumah tangga. Selain itu naiknya upah minimum provinsi dan gaji PNS serta naiknya jumlah bantuan sosial dan nominal akan turut mempengaruhi.

Kemudian masifnya anggaran infrastruktur pemerintahan pada 2019 yang meningkat sampai 133 persen dibanding 2018 juga ikut berkontribusi.

Berikutnya terjadi kenaikan dana desa dan Program Keluarga Harapan serta peningkatan anggaran pemerintah daerah, kata dia.

Ia menyampaikan sektor unggulan masih menjadi pendorong ekonomi Sumbar pada 2019 yaitu pertanian, perdagangan, transportasi dan industri olahan.

Sektor pertanian yang mempunyai pangsa terbesar dalam Pendapatan Domestik Regional Bruto sisi lapangan usaha diproyeksikan akan tumbuh lebih tinggi karena banyaknya insentif pemerintah daerah maupun pusat, kata dia.

Sedangkan sektor perdagangan diproyeksikan akan tumbuh 7,2 persen hingg a7,6 persen, apalagi masyarakat Minang terkenal dengan keahlian berniaga yang menjadi salah satu penentu perekonomian.

Ia menilai terjaganya daya beli masyarakat sebagai dampak masif bansos dan kenaikan anggaran pemerintah akan menjadikan sektor ini tumbuh tinggi pada 2019.

Selanjutnya sektor transportasi diproyesikan akan tumbuh 6,6 persen hingga 7 persen karena tingginya minat wisatawan mengunjungi Ranah Minang.

"Baiknya kondisi infrastruktur perhubungan diyakini akan mendorong pertumbuhan sektor ini," ujar dia.

Pada sisi lain ia melihat terjadi tren pertumbuhan investasi yang terus menurun. Ditenggarai lemahnya investasi swasta di Sumbar tercermin dari melambatnya pertumbuhan kredit investasi sampai akhir 2018.

Ia mengatakan solusi untuk meningkatkan investasi yaitu pembuatan studi kelayakanan bagi proyek investasi strategis, pemanfaatan maksimal kenaikan anggaran infrastruktur, dan penguatan penerapan sistem perizinan daring satu pintu serta koordinasi saber pungli. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar