Padang Panjang mencari ikon cerita rakyat setempat

id cerita rakyat,festival literasi

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Padang Panjang, Alvi Sena (dua dari kiri) memberikan keterangan mengenai lomba menulis cerita rakyat dan rangkaian kegiatan Festival Literasi, Senin(11/3) (Antara Sumbar/ Ira Febrianti)

Padang Panjang (ANTARA) - Pemerintah Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, menggelar lomba menulis cerita rakyat yang kemudian diharapkan bisa menjadi ikon cerita daerah setempat dan tujuan wisata.

"Cerita yang ditulis berupa fiksi atau non fiksi. Diharapkan nanti bisa dipopulerkan dan menjadi ikon cerita dan tujuan wisata di Padang Panjang seperti halnya cerita Siti Nurbaya di Padang," kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Padang Panjang, Alvi Sena di Padang Panjang, Senin.

Lomba menulis cerita rakyat, ujarnya, akan menjadi bagian rangkaian kegiatan di Festival Literasi yang digelar pemerintah daerah setempat pada 15 sampai 17 Maret 2019 di lapangan Banca Laweh.

Lomba tersebut dilaksanakan untuk menggali potensi cerita di Padang Panjang, kemudian dilakukan penajaman cerita untuk karya yang dinilai memberi dampak baik bagi daerah.

Ia menyebutkan sudah ada tim kurator yang akan mengurasi karya yang dikirimkan. Meski berupa fiksi cerita yang ditulis tidak mengaburkan fakta yang ada di daerah.

"Lomba ini sudah sekitar dua bulan ini kami buka untuk menjadi bagian Festival Literasi, sudah ada yang kirimkan karyanya. Pemenangnya diberi hadiah berupa uang tunai dan karya terbaik akan dibukukan," katanya.

Berkaitan dengan Festival Literasi, selain lomba menulis cerita rakyat pihaknya juga menggelar rangkaian lomba lainnya seperti lomba puisi tingkat Sumatera, lomba bercerita bagi anak, film pendek, pameran produk literasi, bincang-bincang literasi dan lainnya.

Literasi menurutnya merupakan kemampuan seseorang menyerap informasi lalu dimanfaatkan untuk kebutuhan. Lomba menulis cerita rakyat dan perlombaan lainnya diharapkan menjadi pendorong minat baca masyarakat untuk menggali informasi bermanfaat.

"Dampak besar dari lomba di festival ini memang tidak dapat dirasakan dalam waktu cepat. Namun dari kegiatan ini kami mendorong masyarakat mengenali diri dan lingkungannya, lalu menumbuhkan keinginan membaca agar punya pemahaman lebih dari apa yang sudah dikenali lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat," jelasnya.(*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar