Koleksi PDIKM Padang Pajang dirawat menggunakan gel silika, ini tujuannya

id PDIKM Padang Panjang

Sejumlah koleksi foto dan buku yang dipajang di Pusat Dokmentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau di Padang Panjang. (Antara Sumbar/ Ira Febrianti)

Padang Panjang, (Antaranews Sumbar) - Koleksi dokumen di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padang Pajang, Sumatera Barat, dirawat memanfaatkan gel silika agar tidak mudah berjamur akibat kondisi lembab.

"Meski koleksi dokumen di PDIKM umumnya berupa salinan, tetap harus dirawat. Dengan kondisi terawat, pengunjung akan nyaman jika ingin membacanya," kata Bagian Informasi sekaligus pemandu wisatawan di PDIKM, Suaita di Padang Panjang, Rabu.

Perawatan dokumen dilakukan dengan menaruh gel silika untuk menyerap kelembaban dan menghindari rayap di lemari-lemari penyimpanan, di antara buku-buku koleksi serta album foto.

Koleksi dan ruangan museum yang berupa rumah gadang baanjuang itu juga dibersihkan setiap hari agar tidak berdebu.

"Hawa di dalam museum ini dingin ditambah cuaca di Padang Panjang yang sering hujan sehingga perlu perawatan untuk mencegah kerusakan. Gel silika yang dipakai secara berkala juga dicek apakah masih aktif atau tidak," katanya.

PDIKM menyimpan koleksi berupa sekitar 4.000 buku yang sebagian berbahasa Belanda dan sekitar 500 foto yang dipajang atau disimpan dalam album.

Pengunjung dapat meminjam dan membaca koleksi tersebut salah satunya untuk mengetahui sejarah Minangkabau.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Padang Panjang, Syahrial menambahkan secara teknologi pemerintah daerah setempat belum memiliki peralatan khusus untuk perawatan koleksi-koleksi tersebut.

Sebagai langkah merawat koleksi, dokumen tersebut juga sudah didokumenkan dalam bentuk digital. Upaya tersebut mendukung koleksi dapat diakses secara lebih luas.

"Hanya sebagian kecil saja yang berupa dokumen asli, umumnya salinan didapat dari Arsip Nasional RI (ANRI). Meski salinan, koleksi tetap dirawat, jika memang rusak dapat dibuat lagi," katanya.

Sementara untuk perawatan bangunan Rumah Adat Baanjuang yang merupakan bangunan utama tempat menyimpan koleksi, perawatan dilakukan seperti merawat bangunan umumnya.

"Jika ada ukiran rusak, dibuat yang baru karena ada dokumen ukirannya. Jika cat mulai pudar dicat ulang menggunakan cat khusus yang dapat menyerap kelembaban agar kayu tidak mudah lapuk," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar