Buku terbitan 1811, koleksi tertua PDIKM Padang Panjang

id Koleksi Pusat Dokumentasi dan Kebudayaan Minang,PDIKM Padang Panjang,Koleksi Buku PDIKM

Sejumlah koleksi foto dan buku yang disimpan di PDIKM di Padang Panjang. (ANTARA SUMBAR/ Ira Febrianti)

Padang Panjang, (Antaranews Sumbar) - Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padang Panjang, Sumatera Barat, menyimpan buku terbitan 1811 dan diperkirakan sebagai buku tertua yang disimpan di lokasi itu.

"Bukan berupa buku asli, namun salinan yang diperoleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)," kata pegawai Bagian Informasi di PDIKM yang juga pemandu wisatawan yang berkunjung ke tempat itu, Suaita di Padang Panjang, Sabtu.

Buku tersebut berjudul The History of Sumatra, Containing an account of the Goverment, Laws, Custom and Manners of the Native Inhabitants karya William Marsden.

"Sebenarnya ada sekitar 4.000 buku yang berupa salinan disimpan di sini. Dari koleksi sebanyak itu kemungkinannya ada buku yang terbit di tahun sebelum 1811 dan ada buku lain yang terbit di tahun yang sama," jelasnya.

Umumnya buku-buku salinan yang disimpan di PDIKM ditulis dalam bahasa Belanda.

Ia mengatakan, bagi pengunjung yang ingin membaca, dapat memilih buku melalui katalog berisi daftar judul buku.

Jika sudah memutuskan membaca salah satu judul, maka petugas di museum yang akan membantu mengambilkan.

"Tentu buku tidak boleh dibawa pulang oleh pengunjung. Pengunjung hanya diizinkan membuat salinannya," katanya.

Meski bernama pusat informasi dan dokumentasi Minangkabau, PDIKM tidak hanya menyimpan koleksi mengenai sejarah Minangkabau namun juga koleksi mengenai daerah lain seperti buku mengenai Batavia karya Thomas Stamford Raffles terbitan 1814.

PDIKM yang berlokasi di Kelurahan Silaing Bawah, ujarnya, rata-rata setiap hari dikunjungi 70 sampai 80 pengunjung.

Hampir setiap pekan objek wisata itu dikunjungi oleh wisatawan asal Malaysia yang biasanya berkunjung mulai Jumat.

"PDIKM ini memuat informasi mengenai sejarah Minangkabau. Jadi jika berwisata ke Sumbar, lebih cocok kenali dulu dengan melihat koleksi di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke kota dan kabupaten lain," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar