Peminat premium tinggi di Pasaman Barat, rela antre berjam-jam

id BBM

Antrean panjang terjadi setiap BBM jenis premium datang di SPBU Batang Lingkin Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Minggu (27/1).

Simpang Empat, (Antaranews Sumbar) - Bahan Bakar Minyak jenis premium masih menjadi bahan bahan yang diminati masyarakat meskipun rela untuk antre berjam-jam di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Hal itu terlihat pada SPBU Batang Lingkin Nagari Aia Gadang Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Pengelola SPBU Batang Lingkin, Santoso di Simpang Empat, Minggu membenarkan BBM jenis premium masih menjadi favorit bagi pengendara.

Sebelum pihak SPBU membuka pompa premium antrian panjang sudah terjadi. Antrean kendaraan sudah dimulai sejak subuh.

Jika sudah masuk ke dalam antrian, tidak jarang masyarakat harus antre hingga tiga jam untuk mendapatkan premium subsidi tersebut.

"Pompa BBM jenis premium kami buka pukul 07.00 WIB. Namun, masyarakat sudah antri semenjak subuh," ujarnya.

Menurutnya terlihat sekali antusias masyarakat dalam mendapatkan premium tersebut. Jika buka pukul 07.00 WIB pada pukul 10.00 atau paling lama pukul 11.00 WIB sudah habis sebanyak 20 ton.

Ia menyebutkan pemerintah sendiri saat ini membatasi BBM jenis premium. Sementara masyarakat yang layak menerima BBM jenis subsidi belum terpenuhi.

Tidak jarang masyarakat berebutan hingga terjadi perkelahian dan adu mulut sesama masyarakat.

"Sepekan SPBU menghabiskan 64 ton BBM jenis premium. Untuk menghindari kerusuhan di SPBU pihaknya meminta bantuan ke pihak kepolisian untuk mengamankan situasi di SPBU," katanya.

Sebagai pengelola SPBU, pihaknya kebingungan karena BBM jenis premium ini. Karena, kelangkaan BBM bisa berakibat terganggunya keamanan dan kenyamanan di SPBU.

Salah seorang pengendara, Reno mengaku rela antri berjam-jam karena harga premium lebih murah dibandingkan jenis lainnya.

"Kami berharap BBM jenis premium ini tidak dihilangkan karena masyarakat masih sangat meminati," harapnya.

Pewarta :
Editor: Mario Sofia Nasution
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar