Warga diimbau waspada jika berburu di sekitar kawasan hutan

id Bksda agam,Berburu di agam,Waspada hewan buas

Anggota BKSDA Resor Agam sedang menghalau beruang di Labu Pacah, Jorong Empat Geragahan, Nagari Garagahan, Kecanatan Lubukbasung, 21 Desember 2017. (Dok. BKSDA)

Lubukbasung (Antaranews Sumbar) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat, mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan dari serangan hewan buas saat melakukan aktivitas berburu tradisional di daerah berdekatan dengan kawasan hutan.

"Imbauan ini kami sampaikan agar warga tidak diserang hewan buas berupa harimau Sumatera, beruang madu dan lainnya," kata Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sumbar, Khairi Ramadhan didampingi Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Jumat.

Ia mengatakan, ini mengingat bahwa hutan di Agam mememiliki hewan buas tersebut.

Apabila mereka merasa terusik, sehingga hewan itu akan menyerang warga yang ada sekitar areal penggunaan lain (APL).

"Apabila menemukan hewan buas, langsung hindari ke daerah lebih aman agar tidak diserang, hindari berada di APL saat sore dan malam hari," katanya.

Pada 26 Desember 2018, tambahnya, satu kasus serangan hewan buas jenis beruang madu atau Helarctos malayanus di Agam.

Korban atas nama Anto (24) warga Cumateh, Jorong Sungai Jariang, Nagari Lubukbasung, Kabupaten Agam, diserang beruang saat melakukan aktifitas berburu babi tidak jauh dari rumahnya.

Saat itu, korban sedang berjalan di kawasan APL dengan satu ekor anjing miliknya. Tiba-tiba korban dan anjing miliknya diserang beruang dengan tinggi sekitar 80 centimeter itu.

"Korban mengalani luka pada bagian hidung dan kaki sebelah kanan. Sementara anjing korban juga mengalami luka dan korban melarikan diri bersama kawan-kawanya yang sedang berburu di lokasi itu," katanya.

Sebelumnya, salah seorang peserta berburu babi atas nama Hendri (27) juga diserang beruang madu di Labu Pacah, Jorong Empat Garagahan, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubukbasung pada Desember 2017.

Korban mengalami luka serius pada bagian kakinya.

"Pada umumnya korban ini merupakan peserta berburu babi secara tradisional," tegasnya.(*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar