Taman baca dan kampung literasi bakal isi Festival Literasi 2019

id Festival Literasi Padang Panjang,Kota Literasi,Kampung Literasi

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Padang Panjang bersama Forum Pegiat Literasi setempat memberikan pengarahan pada taman bacaan masyarakat di Kelurahan Ngalau. (Antara Sumbar/ Ira febrianti)

Padang Panjang, (Antaranews Sumbar) - Pemerintah Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, membina taman baca masyarakat (TBM) dan kampung literasi di daerah itu untuk mengisi Festival Literasi yang akan digelar Maret 2019.

"Dalam Festival Literasi, kampung literasi akan menampilkan produk-produk yang dihasilkan dari kegiatan literasi yang sudah dilaksanakan," kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Padang Panjang Alvi Sena di Padang Panjang, Kamis.

Literasi, terangnya tidak lagi sebatas baca tulis namun bermakna lebih luas di mana seseorang atau sekumpulan orang berusaha memberdayakan diri dengan melakukan aktivitas yang tujuannya untuk berubah ke arah yang lebih baik.

"Ada sejumlah taman baca dan kampung literasi di Padang Panjang yang kini sedang kami data sekaligus beri pembinaan. Mereka bisa beraktivitas sesuai dengan potensi dan kondisi yang ada di lingkungan masing-masing," katanya.

Ia menyebutkan sejak abad ke-19 Padang Panjang sudah tergolong dalam kota maju karena menjadi pusat pendidikan Islam, pergerakan kaum muda dan lainnya sehingga dengan sejarah yang kuat itu daerah yang hanya memiliki dua kecamatan tersebut tetap bertahan sebagai sebuah kota.

"Bisa dikatakan sejak dulu Padang Panjang adalah kota literasi, kini kami ingin itu tetap hidup dan mempertahankan sejarah yang ada. Salah satu upayanya dengan menghidupkan literasi di kelurahan-kelurahan," katanya.

Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan setempat Yoni Aldo menambahkan pembinaan tidak dilakukan hanya untuk mengisi Festival Literasi pada Maret 2018 namun diharapkan bisa memberikan dampak berkelanjutan usai kegiatan itu dilaksanakan.

Di festival literasi, warga dapat melihat berbagai bentuk produk literasi dari setiap kelurahan sehingga dapat mencontoh atau menerapkan inovasi di kelurahan masing-masing.

Ia mencontohkan produk literasi dapat berupa produk kerajinan, inovasi pertanian, pemanfaatan tanaman obat keluarga, pendidikan Al Quran, penataan daerah menjadi tujuan wisata adat dan budaya dan lainnya.

"Warga silakan himpun potensi dan minat di setiap kelurahan nanti dipamerkan dalam festival literasi. Dengan ini kita berharap semangat untuk mengangkat potensi diri dan daerah bisa terus tumbuh," katanya

Ketua Forum Pegiat Literasi (FPL) Padang Panjang M Subhan mengatakan agar aktivitas di TBM dan kampung literasi dapat hidup, terdapat tujuh indikator yang mesti dipenuhi.

Indikator tersebut yaitu tempat berkumpul (basecamp) yang menarik agar ramai dikunjungi, program atau kegiatan untuk jangka waktu beberapa bulan hingga dalam satu tahun ke depan, kebutuhan sumber daya pengelola, pengurus dan relawan, pendanaan.

Selanjutnya, membangun jaringan dengan perangkat daerah atau organisasi yang ada karena literasi memiliki cakupan luas, dokumentasi dan publikasi kegiatan melalui media sosial agar dikenal masyarakat dan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan dan kendala dari jalannya kegiatan yang dilaksanakan.

"Saat ini memang belum ada kampung literasi yang bisa dijadikan sebagai rujukan yang ideal. Karena itu Padang Panjang mesti bergerak dengan menerapkan indikator itu," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar