Sumbar gelar art and fashion culture 2018

id Art and fashion culture

National Board IFC Fomalhaut Zamel (kiri), Ketua Dekranasda Sumbar Nevy Zuairina (tiga dari kiri) dan Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sumbar Derliati (dua kiri) saat jumpa pers sebelum pelaksanaan Art and Fashion 2018 di Hotel Kryad Bumiminang Kota Padang, Sumbar (Antara Sumbar/ Mario Sofia Nasution)

Padang,(Antaranews Sumbar) - Pemerintah Sumatera Barat bekerja sama dengan Indonesian Fashion Chambers (IFC) menggelar kegiatan Art and Fashion 2018 yang menampilkan tarian, nyanyian dan pagelaran busana bertajuk Singularity di Hotel Kryad Bumiminang Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat malam.

National Board IFC Fomalhaut Zamel di Padang, Jumat mengatakan kegiatan ini merupakan gabungan seni, fesyendan budaya dan ada 14 desainer yang akan menampilkan karya mereka.

“Tujuh desainer berasal IFC dan tujuh lainnya merupakan komunitas dari IFC, mereka akan menampilkan karya terbaikmereka,” kata dia.

Kegiatan ini mengambil tema Singularityyang bermakna sebagai perubahan zaman. Tema ini menggambarkan kehidupan yang mengalami pergeseran teknologi dan masa depan yang belum pasti.

"Dalam tema ini terdapat unsur pertanyaan, kekhawatiran, optimisme dan harapan yang akan terjadi di masa mendatang," katanya.

Karya-karya desainer itu nantinya akan dibagi dalam empat klaster yang akan menjadi trend Forecaster 2019/2020 yakni Exuberant, Neo Medieval, Svarga dan Cortex.

"Kita akan menampilkan budaya lokal dalam tampilan global. Mulai dari tenun, batik minang, motif pandai sikek yang dikemas dalam tren global tersebut," kata dia.

Keempat belas desainer itu adalah Buma by Bunga Matassa dengan Tropical Breze (exuberant), Johan Kurniawan dengan Rosea (Svarga), Eckho Rama Khardio dengan Bunka (Svarga), Winaya dengan Slush (Neo Medival), Mayenti Tianda Kebaya dengan The Lap of Luxury (Cortex), Mr Soegito dengan Kurtaku Gibran Gallery (Svarga) dan Nancy AB dengan 1.000 Ram0-Ramo Kapujan )Exuberant mix Svarga).

Selanjutnya desainer IFC yaitu Ressidona dengan The Treasury of Egypt (Neo Medival), Riko keket dengan Broken Crown (Cortex), Alvy Oktrisni dengan Mr. S part 2 (Neo Medival), Rela Tulusia engan Imperium (Neo Medival), Beny Mirsha dengan Aequor (Cortex), DE’ irma dengan Diverse (Neo Medival) dan Fomalhaut Zamel dengan Baroque (Neo Medival).

Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sumbar Derliati mengatakan pihaknya saat ini berupaya membuka ruang bagi pekerja kreatif untuk menyalurkan karya mereka.

Kegiatan ini diharapkan berdampak terhadap usaha kreatif dan mampu menggaet wisatawan lokal maupun mancanegara datang ke Sumbar.Menurut dia pemerintah tidak menghalangi seseorang untuk mengekpresikan diri melalui karya-karya mereka terutama di bidang fashion.

Namun dalam pelaksanaannya, para desainer harus berhat-hati terhadap rambu-rambu yang ada sehingga mereka dapat berkarya dan tetap menjunjung falsafah adat, "Adat Basandi Syara-Syara Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Ketua Dekranasda Sumbar Nevi Zuairina mengharapkan kegiatan ini dapat memunculkan desainer baru yang mampu berkirprah hingag tingkat nasional nantinya.

“Pekerja kreatif ini biasanya ada namun belum terlihat, mereka dapat ditemukan dengan kegiatan seperti ini. Seperti mutiara yang berada di dalam lumpur, mereka harus ditemukan untuk dapat bersinar,” kata dia.

Ia mengatakan dengan kegiatan ekonomi kreatif ini hendaknya membuat generasi muda dapat memiliki pekerjaan yang baru dan tidak lagi bercita-cita menjadi karyawan maupun pegawai negeri.

“Mulai dari desainer, fotographer, pengrajin dan lainnya, pekerjaan yang menjanjikan untuk masa mendatang,” katanya.

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar