Bupati: membabat hutan untuk berladang tetap tidak dapat dibenarkan

id Hendrajoni

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni. (Antara Sumbar/Didi SP)

Pembabatan hutan ini telah menyebabkan banjir yang merugikan banyak pihak
Painan, (Antaranews Sumbar) - Bupati Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Hendrajoni menilai pembabatan hutan lindung seluas 650 hektare di Kecamatan Lengayang daerah setempat meskipun untuk keperluan berladang tetap tidak bisa ditolerir.

"Pembabatan hutan initelah menyebabkan banjir yang merugikan banyak pihak," kata dia di Painan, Rabu.

Karena itu apapun alasannya pembabatan hutan tetap tidak dibenarkan. Karena manfaat baiknya hanya untuk mereka yang berladang, sementara ratusan bahkan ribuan orang merasakan dampak banjir yang ditimbulkan.

Ia menjelaskan pembabatan hutan yang tidak terkendali, menyebabkan menurunnya kemampuan hutan dalam menyerap air hujan.

Sehingga jika turun hujan dengan intensitas tinggi, maka debit air di sungai akan dengan cepat meningkat sehingga menyebabkan banjir.

Apalagi jika arus sungainya berbelok-belok, maka air akan dengan cepat membanjiri lokasi-lokasi permukiman di bantaran sungai.

Bahkan pada situasi ekstrim tidak menutup kemungkinan akan terjadi banjir bandang yang akan berisiko tidak hanya pada materi, namun juga nyawa manusia.

Selain itu hutan juga tidak akan maksimal dalam menyimpan ketersediaan air, sehinga pada musim kemarau akan terjadi kekeringan.

Kekeringan sebutnya juga berdampak negatif terhadap banyak orang, terutama kalangan petani karena mereka tidak bisa turun ke sawah.

Sawah-sawah yang tadinya bisa diolah sepanjang tahun akan menjadi sawah tadah hujan yang hanya akan bisa digarap dua tahun sekali.

Terkait hal itu pihaknya telah mendorong instansi terkait untuk segera melakukan peninjauan dan memberi pemahaman kepada masyarakat seputar dampak pembabatan hutan bagi mereka.

"Berladang bagi masyarakat penting untuk memperkuat ekonomi keluarga. Namun di sisi lain dampak dari kegiatan itu tentu juga harus diperhatikan," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar