Promosikan rendang, Sumbar gelar Nusantara Marandang di Jakarta (Video)

id nusantara marandang

Nusantara Marandang (ANTARA SUMBAR/Istimewa)

Padang, (Antaranews Sumbar) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar Festival Nusantara Marandang di lapangan Parkir Senayan, Jakarta (2/12) sebagai upaya mempromosikan kuliner terenak di dunia itu secara nasional dan internasional.

"Perwakilan 34 provinsi akan ikut memasak randang dengan cara yang benar sesuai cita rasa asli masakan Minangkabau dengan memperhatikan takaran bumbu, kelapa, jenis daging, cara memasak dan lama waktu memasak," kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno di Padang, Jumat.

Dengan cara itu diyakini akan makin banyak masyarakat di nusantara yang menggemari dan menikmati sajian kuliner khas Ranah Minang tersebut.

Makin dikenalnya randang yang berasal dari Sumbar diharapkan menjadi salah satu pemicu bagi masyarakat dari berbagai provinsi di Indonesia untuk datang berkunjung.

Hal itu akan menggerakkan perekonomian masyarakat, terutama yang bergerak di sektor pariwisata seperti perhotelah, kuliner, cindramata dan usaha terkait lainnya.

Sumbar menurut Irwan memiliki potensi luar biasa di bidang pariwisata yang mulai digenjot pengembangannya hampir di seluruh kabupaten dan kota yang ada.

Destinasi yang beragam dan lengkap mulai dari wisata dasar laut, pulau, pantai, hingga wisata alam perbukitan, lembah dan pegunungan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.

Seni budaya dan keragaman kuliner juga menjadi andalan untuk menarik wisatawan agar datang ke Ranah Minang.

"Randang adalah ikon kuliner yang diakui sebagai salah satu makanan terenak versi CNN dalam empat tahun terakhir. Kita manfaatkan ini untuk menarik wisatawan ke Sumbar," katanya.

Sementara itu Kepala Badan Penghubung Provinsi Sumbar Andre Setiawan menyebutkan kuliner randang sangat erat kaitannya dengan adat dan budaya Minangkabau.

Randang adalah makanan "adat" yang dibedakan berdasarkan fungsinya. Ada randang untuk acara batagak pangulu (datuk), ada randang untuk acara sunatan, randang untuk manjalang bako, dan randang untuk pesta.

Itulah sebabnya randang memiliki banyak varian. Dari data sementara, jenis randang di Sumbar ada sekitar 400 jenis. Bisa jadi kalau didata lagi secara serius, jumlah dan jenis randang bisa lebih dari itu.

Masing-masing nagari, jorong, kaum, suku dan kabupaten serta kota mempunyai ciri khasnya masing-masing. Ada Randang Solok, ada Randang Padang, ada Randang Batusangkar, Randang Pariaman, Randang Pesisir Selatan, Randang Bukittinggi dan lain-lain.

Sebagai kuliner yang telah beberapa kali membanggakan Indonesia di kancah internasional, pantas rasanya jika kuliner itu "dinasionalisasi" menjadi kuliner khas Indonesia dari Ranah Minang.

Itu yang menjadi salah satu latar belakang Pemprov Sumbar menggelar Festival Nusantara Marandang. Festival yang baru pertama digelar ini akan mengundang perwakilan seluruh provinsi di Indonesia untuk ikut memasak randang yang benar sesuai cita rasa asli masakan Minangkabau. Takaran bumbu, kelapa, jenis daging, cara memasak dan lama waktu memasak.

Peserta juga akan diikutkan lomba. Masing-masing kelompok dari 34 provinsi itu terdiri dari 2 orang mewakili remaja dan dewasa.

Puncak acara Festival Nusantara Marandang akan diselenggarakan di kawasan lapangan Parkir Senayan, Jakarta 2 Desember 2018.

Agar lebih meriah acara itu juga akan diisi dengan kegiatan Pemecahan Rekor MURI berupa hasil terbanyak kreasi memasak Randang.

"Untuk lebih menggaungkan event Nusantara Marandang 2018 ini, juga akan diadakan berbagai atraksi seni budaya, dan aneka lomba lomba," katanya.

Acara Nusantara Marandang juga akan dimeriahkan dengan bazaar kuliner. Bazar kuliner ini selain mengangkat aneka masakan Randang, cara pembuatan yang sangat tradisional, juga akan mengangkat komunitas Minangkabau di Jakarta serta para pelaku usaha mikro kecil dan menengah yang berkaitan dengan masakan Randang.

Masyarakat pecinta kuliner yang kebetulan berada di Jakarta, bisa ikut menikmati harum aroma randang yang menggugah selera dan mencoba kuliner terenak di dunia itu. (*)
Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar