Hasto mengaku dapat keluhan Nahdiyin soal Sandiaga

id Hasto Kristiyanto,Nahdiyin,Makam Bisri Syansuri,Sandiaga Uno

Hasto Kristiyanto. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta/pd/18)

Jakarta, (Antaranews Sumbar) - Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi/Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto, mengaku kedatangan sejumlah nahdiyin (warga Nahdlatul Ulama) yang mengeluhkan sikap Calon Wakil Presiden RI Sandiaga Uno yang melangkahi makam pendiri NU Kiai Haji Bisri Syansuri.

Hasto menceritakan pertemuan yang berlangsung tertutup itu dalam acara konsolidasi di Posko Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi/K.H. Ma'ruf di Surabaya, Jatim, Jumat.

"Kami memahami kegusaran warga NU terhadap tindakan tidak terpuji Sandiaga yang melangkahi makam almarhum K.H. Bisri Syansuri," kata Hasto seperti dalam keterangan yang diterima.

Sekjen PDI Perjuangan ini mengatakan bahwa ziarah kubur haruslah dilandasi oleh niatan suci dan penuh rasa hormat.

"Apa yang dilakukan Sandiaga mencerminkan dia lebih banyak mengeyam pendidikan Barat sehingga tidak memahami kepribadian bangsanya sendiri," kata Hasto.

Hasto menilai akan berbahaya jika negara dipimpin oleh seorang yang tidak memahami kepribadian bangsanya, dan menjadikan ziarah kubur hanya sebagai pencitraan demi dapat dukungan nahdiyin.

Ziarah dengan motif kekuasaan, kata dia, hanya menghasilkan karma politik. Apa yang dilakukan oleh Sandi telah menyentuh hal yang paling elementer terkait dengan karakter pemimpin yang seharusnya respek dengan tradisi keagamaan dan kultur bangsanya.

"Tidak heran kampanye belum lama berlangsung, mereka sudah tiga kali meminta maaf. Jadi, pemimpin itu tidak boleh grusa-grusu, emosional, main ancam, dan jangan kedepankan pencitraan seolah agamis. Itulah akibatnya kalau kekuasaan dilakukan dengan cara tidak benar, seperti membeli rekomendasi 1 triliun," kata Hasto menanggapi keluhan warga NU tersebut.

Hasto juga mengingatkan Jatim adalah pusat penggemblengan anak-anak bangsa dari perpaduan kalangan nasionalis-Islam yang sangat mengerti jiwa dan kepribadian bangsanya.

"Dapur kebangsaan itu (Jatim) menyala-nyala dan tidak heran di Kota Surabaya ini semangat kepahlawanan itu muncul, semangat dedication of lifeitu berkobar demi mempertahankan nusa dan bangsa," ujar Hasto.

Oleh karena itu, kata Hasto, TKD, mesin parpol, dan sukarelawan di Jatim yang merupakan perpaduan jiwa nasionalis-Islam harus bisa memenangkan Jokowi/Ma'ruf yang merupakan cerminan dari perwakilan nasionalis dan Islam tersebut.

"Kami tidak sekadar sedang memenangkan Pak Jokowi/Kiai Ma'ruf, tetapi sedang memenangkan nasib, memenangkan masa depan bangsa dan negara Indonesia di tangan pemimpin yang lahir dari rakyat," tegas Hasto. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar