Harga beras tak lagi terjangkau, Pemkab Agam gelar operasi pasar di Tanjungraya

id operasi pasar beras

Puluhan warga Paninjauan, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, sedang membeli beras di lokasi operasi pasar yang digelar pemerintah setempat, Jumat (19/10). (Dok DKUMKMPP Agam)

Lubukbasung, (Antaranews Sumbar) - Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, melakukan operasi pasar di Kecamatan Tanjungraya untuk menstabilkan harga beras yang tak lagi terjangkau pascapetani gagal panen di daerah itu.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Agam, Nelfia Fauzana di Lubukbasung, Selasa, mengatakan petani di wilayah itu gagal panen akibat sawahnya diserang hama tikus, dan direndam banjir setelah hujan lebat beberapa waktu lalu.

Akibatnya harga beras jenis Ir 42 banang pulau naik dari Rp12 ribu menjadi Rp14 ribu per kilogram di tingkat pedagang.

"Naiknya harga beras ini tidak lagi terjangkau masyarakat sehingga diperlukan operasi pasar bekerja sama dengan Perum Bulog Sub Divisi Regional Bukittinggi," katanya.

Operasi pasar itu untuk 7,5 ton beras dengan harga tebus Rp10.500 per kilogram dan kualitas cukup bagus.

Operasi pasar ini digelar setelah wali nagari atau kepala desa adat setempat mengajukan permohonan operasi pasar ke Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Agam.

Untuk nagari lain, tambahnya, pihaknya masih menunggu usulan dari wali nagari.

"Kuota beras untuk Kecamatan Tanjungraya masih tinggal sebanyak 50 ton, dan kami berharap ada usulan dari wali nagari lainnya," katanya.

Operasi pasar itu dilakukan setelah lahan tanaman padi milik petani di daerah itu diserang hama tiku dan direndam banjir.

Dengan cara itu petani tidak bisa panen sehingga harga beras naik. Setelah itu pihaknya mengusulkan ke Perum Bulog Sub Divisi Regional Bukittinggi.

Salah seorang warga, Ernawati menambahkan, operasi pasar yang dilakukan sangat membantu masyarakat karena harga beras di pasaran Rp14 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp12 ribu.

"Kita berharap operasi itu digelar setiap saat agar harga beras normal," katanya.

Sebelumnya Kepala Bidang Taman Pangan, Dinas Pertanian setempat, Zul Efendi mengatakan lahan tanaman padi milik petani diserang hama tikus seluas 18 hektare.

Ke 18 hektare itu tersebar di Nagari Koto Malintang sekitar lima hektare, Nagari Koto Kaciak dua hektare.

Sementara di Nagari Sungai Batang satu hektare, Nagari Bayua dua hektare dan Nagari Duo Koto delapan hektare.

"Serangan hama tikus ini tidak satu hamparan, tetapi menyebar ke lokasi lain dengan kondisi ringan dan sedang," katanya.

Agar penyebaran serangan hama tikus tidak meluas, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar dan Dinas Pertanian Agam telah melakukan gerakan pembasmian hama tikus dengan petani di Kecamatan Tanjungraya.

Selain itu melakukan budidaya burung hantu di Koto Kaciak, Kecamatan Tanjungraya. Pada 2018, melepas tiga pasang burung untuk membasmi tikus, karena burung hantu pemakan tikus.

"Pelepasan burung hantu itu salah satu upaya dalam meminimalisir hama tikus di daerah itu," katanya. (*)

Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar