Jangan takut, Bupati Pesisir Selatan minta masyarakat laporkan praktik pembalakan liar

id hendrajoni

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni. (Antara Sumbar / Didi Someldi Putra) (Antara Sumbar / Didi Someldi Putra/)

Saya sudah meminta masyarakat untuk melaporkan oknum masyarakat yang melakoni kegiatan itu, dan jika mereka tidak berani saya sudah meminta untuk melaporkan identitasnya kepada saya, biar saya nanti yang melaporkannya
Painan, (Antaranews Sumbar) - Bupati Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Hendrajoni meminta masyarakat melaporkan jika terjadi pembalakan liar di lingkungannya, karena aksi itu berdampak buruk terhadap ekosistem hutan dan menjadi pemicu banjir bandang, kekeringan, dan lainnya.

"Jika masyarakat mengetahui adanya praktik itu segera laporkan, jika tidak berani melapor karena takut hubungi saya, maka saya sendiri yang akan menyeret pelakunya ke meja hijau," kata dia di Painan, Selasa.

Ia menyebutkan secara geografis daerah sebelah timur, berbatasan langsung dengan hutan baik hutan produksi maupun Taman Nasional Kerinci Seblat.

Sehingga jika penebangan liar tidak bisa dikendalikan maka masyarakat akan terancam berbagai musibah, di antaranya kekeringan ketika musim kemarau, dan akan sering dilanda banjir ketika musim hujan datang.

"Kemarin saya berkunjung ke Kampung Limau Manis Kulam, Kecamatan Lengayang masyarakat di sana sudah mulai merasakan dampak penebangan liar, jika sebelumnya kampung tersebut tidak pernah kebanjiran saat ini ketika memasuki musim penghujan hampir setiap hari kebanjiran," katanya.

Sesuai informasi yang ia dapatkan banjir terjadi sejak dua tahun terakhir, dan salah satu penyebabnya adalah maraknya penebangan hutan secara liar.

"Saya sudah meminta masyarakat untuk melaporkan oknum masyarakat yang melakoni kegiatan itu, dan jika mereka tidak berani saya sudah meminta untuk melaporkan identitasnya kepada saya, biar saya nanti yang melaporkannya," ujarnya lagi.

Terpisah, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Besar TNKS, Sahyudin menyebutkan pada pertengahan 2017 pihaknya mengidentifikasi sebanya 26 peladang membabat hutan TNKS di Kampung Limau Manis Kulam.

Selanjutnya para peladang itu diminta untuk membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, aksi tersebut diketahui setelah masyarakat sekitar memberikan laporan terkait kegiatan itu.

"Setidaknya mereka telah membabat lahan seluas 50 hektare, berdasarkan kesepakatan lahan yang dibabat akan tetap diolah namun dengan catatan tidak menambah luas serta di lokasi harus menanam tanaman tahunan," sebutnya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar