Ratusan KK terisolasi di Pasaman, jembatan putus akibat banjir

id Banjir

Jembatan gantung yang menjadi akses bagi warga di empat kejorongan, Rao Selatan putus dihantam banjir dua hari lalu, akibatnya ratusan warga terisolasi. (Ist)

Lubuk Sikaping, (Antaranews Sumbar) - Ratusan Kepala Keluarga (KK) di empat kejorongan di Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman hingga Kamis (11/10), masih terisolasi setelah akses jembatan dan jalan terputus, usai dihantam banjir dua hari lalu.

Ke empat kejorongan itu, yakni Jorong Ampek Kubu, Nagari Lubuk Layang, Jorong Tanjung Durian, Jorong Kampuang Barangin dan Jorong Koto Panjang, Nagari Lansekkadok.

Dilaporkan, dua hari pasca banjir, warga di empat kejorongan itu belum mendapatkan bantuan dalam bentuk apa pun dari pemerintah setempat. Padahal, stok beras mereka sudah rusak terendam banjir.

"Kalau di Nagari Lansekkadok, Jorong Tanjung Durian, Jorong Kampuang Berangin dan Koto Panjang masih terisolir. Karena akses jalan masih terendam banjir, karena luapan sungai Batang Sumpu," kata Walinagari Lansekkadok, Antoni saat dihubungi, Kamis.

Bahkan, kata dia, untuk mengakses salah satu kejorongan di nagari itu, warga terpaksa memanfaatkan rakit dari batang pisang. Karena akses jalan Lansekkadok-Silayang, Mapattunggul Selatan masih terendam banjir.

"Rakit dari batang pisang menjadi satu-satunya sarana transportasi bagi warga setempat. Termasuk jadi alat transportasi untuk mengangkut anak sekolah," katanya.

Ironisnya, untuk mendapatkan jasa rakit, setiap warga harus merogoh kocek sebesar Rp10 ribu untuk sekali jalan.

Salah seorang warga, Rafnel (51) menuturkan, setiap warga yang ingin menggunakan jasa rakit dikenakan biaya oleh pemilik rakit. Hal itu tidak bisa dielakkan, karena rakit satu-satunya sarana transportasi bagi warga setempat.

"Cuma rakit satu-satunya. Baik itu bagi warga Koto Panjang maupun warga Silayang yang ingin pergi ke Rao atau Tapus untuk berbelanja," katanya.

Rinel (37), seorang pedagang ayam mengaku terpaksa menggunakan jasa rakit untuk mengakses kawasan itu. Sebab, kata dia, banjir juga merendam jalan alternatif lainnya. Seperti, Pancahan-Sawah Tarok dan Padang Beriang-Rojang.

"Jalan alternatif lainnya juga terputus. Yang dekat dan aman cuma ini, meski harus pakai rakit. Saya mau ke Silayang. Dari sini lebih dekat dan gak mutar," ujarnya.

Secara terpisah, Walinagari Lubuk Layang, Ermin mengatakan, ratusan KK di nagari itu membutuhkan bantuan beras dari pemerintah setempat. Pasalnya, stok beras milik mereka rusak setelah terendam banjir semalaman.

"Kebutuhan yang paling mendesak dari warga terdampak bencana adalah sembako, khususnya beras," ujarnya.

Ermin mengatakan, sekitar 500 rumah warga terendam banjir di delapan kejorongan. Banjir juga merusak ratusan hektare kolam ikan siap dan sawah siap panen. Kerugian sementara akibat peristiwa itu mencapai Rp2 miliar.

"Sekitar 500 unit rumah terendam dari Jorong 1 hingga di Jorong 8. 300 hektar kolam ikan disapu banjir. 150 hektare sawah gagal panen. Kita perkirakan kerugian bisa mencapai Rp2 miliar. Terbesar pada kolam ikan yang saat ini hendak panen," kata Ermin.

Selain itu, kata Ermin, sekitar 45 KK di Jorong Kubu, Nagari Lubuk Layang masih terisolasi hingga saat ini. Itu akibat terputusnya jembatan gantung sebagai akses satu-satunya ke perkampungan tersebut.

"Jorong 4 Kubu hingga saat ini belum bisa diakses, masih terisolasi. Selain jembatan putus, hanyut dihantam banjir, lahan pertanian seperti sawah dan ladang jagung juga rusak," katanya.
Pewarta :
Editor: Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar