Harga kelapa congkel di Padang Pariaman anjlok, petani kesulitan

id kobra

Salah seorang toke kobra sedang menjemur kelapa congkel di bawah terik matahari, di Sungai Geringging, Padang Pariaman, Sumbar,  Jumat (7/6). (ANTARA SUMBAR/Aadiaat M.S)

Jadi sekarang untungnya tipis sehingga berimbas pada harga beli kelapa kepada petani
Parit Malintang, (Antaranews Sumbar) - Harga kelapa congkel atau kopra di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat anjlok dari Rp10 ribu menjadi Rp4.600 per kilogram dalam beberapa bulan terakhir.

"Sekitar empat bulan lalu harga kopra masih mencapai Rp10 ribu per kilogram, namun sekarang harganya cukup rendah sehingga menyulitkan petani," kata salah seorang toke atau pedagang pengumpul kobra, Ida (55) di Sungai Geringging, Jumat.

Ia mengatakan dengan harga kopra yang anjlok maka toke kelapa juga terpaksa menurunkan harga beli buah tersebut kepada petani setempat.

Ketika harga kopra kisaran Rp6 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram toke kelapa masih bisa membeli buah itu kepada petani kisaran Rp1.600 hingga Rp2.000 per butir.

"Namun sekarang kami hanya bisa membeli antara Rp1.000 hingga Rp1.200 per butir, tergantung besar kecilnya buah kelapa," katanya.

Sedangkan biaya upah pekerja, lanjutnya toke di daerah itu mematok upah Rp400 per butir untuk kebun di tempat dataran, dan Rp450 per butir untuk kebun yang berada di lereng dan lembah.

Kelapa yang dibeli kepada petani dijual dengan harga Rp1.500 per butir untuk ukuran sedang, dan Rp2.600 untuk ukuran besar.

"Jadi sekarang untungnya tipis sehingga berimbas pada harga beli kelapa kepada petani," ujarnya.

Ia mengatakan tidak mengetahui penyebab turunnya harga kopra ini, namun dirinya berharap harga komoditas itu segera naik lagi.

Karena turunnya harga kopra maka dirinya terpaksa harus menyimpan komoditas itu hingga harganya naik.

Toke kelapa lainnya Muzar (64) mengatakan saat ini dirinya lebih memilih menyimpan kopra di gudang daripada menjual.

"Hal ini sering terjadi dan menurut perhitungan saya harga kopra akan naik lagi dalam waktu dekat," kata dia.

Sementara toke kelapa lainnya Hendri (34) mengatakan dirinya lebih memilih menjual sisa kelapa yang tidak terjual dengan harga Rp1.100 per kilogram daripada memproduksi kopra.

"Kalau terus memproduksi kopra, saya akan rugi waktu dan tenaga, apalagi sekarang sering hujan," ujar dia.

Sedangkan Indra (38) toke lainnya tetap memproduksi kopra dan langsung menjualnya, karena untung dari menjual kelapa tidak mencukupi untuk membiayai kehidupannya karena tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menutupinya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar