Dengan becak motor, Pariaman optimalkan pemeliharaan 15 ruang terbuka hijau

id Ruang terbuka hijau,Pariaman

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pariaman, Adri. (Antara Sumbar/Muhammad Zulfikar)

Pariaman, (Antaranews Sumbar) - Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat, mengoptimalkan pemeliharaan 15 Ruang Terbuka Hijau (RTH) di daerah itu guna memaksimalkan fungsinya.

"Petugas bahkan memberdayakan dua becak motor sejak 2018 untuk menyiram tanaman di setiap titik RTH yang tidak terjangkau oleh mobil tangki air," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pariaman, Adri di Pariaman, Senin.

Ia mengatakan becak motor tersebut beroperasi setiap pagi dan sore hari dengan kapasitas air masing-masingnya 900 liter.

"Di samping adanya satu mobil tangki air berkapasitas 6.000 liter untuk menyiram semua RTH di Kota Pariaman termasuk taman-taman pada median jalan,"kata dia.

Ia menyebutkan 15 RTH yang dioptimalkan itu diantaranya berada di Simpang Apa, Simpang Jati, Simpang Padusunan, Lapangan Merdeka, Pantai Gandoriah dan Asean Youth Park.

Kemudian juga di Taman Anas Malik, Rumah Tabuik Subarang dan Pasa, Simpang Tabuik, Pantai Cermin, Pantai Kata, Batas Kota Padang Biriak-Biriak, serta Balairung Rumah Dinas Walikota dan Wakil Walikota.

Secara umum, ujar dia, RTH di Pariaman dipelihara oleh 60 orang petugas pertamanan setiap hari agar tetap indah, bersih dan membuat pengunjung dan masyarakat setempat nyaman dengan keberadaannya.

"Kami juga terus berupaya untuk membuka dan menciptakan RTH baru di Pariaman agar udara terus sehat dan lebih bersih," ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas KepalaSeksi Pengelolaan Pertamanan Bidang Kebersihan dan Pertamanan DLH Kota Pariaman, Doni Saputra menyebutkan bahwa 60 persen RTH di Pariaman sudah memenuhi standar.

Standar RTH tersebut dinilai dari keindahan, kenyaman, luas RTH, letak RTH dan sebagainya.

Selain itu, pemilihan bunga juga cukup menentukan keindahan RTH sehingga di Kota Pariaman dipilih bunga-bunga yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca seperti melati mini, bonsai dan tanaman hias lainnya.

"Kami juga menentukan kriteria bunga yang harganya terjangkau, namun indah dengan beraneka warna," ujar dia.

Namun, ia mengakui terdapat sejumlah kendala di lapangan terutama adanya sejumlah tanaman yang hilang sehingga pihak DLH harus melakukan penanaman berulang kali. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar