Danau tercemar, produksi ikan air tawar Agam turun

id ikan air tawar

Sekelompok warga Koto Malintang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, sedang memanen ikan dari keramba jaring apung di Danau Maninjau, Sabtu (14/7). Antara Sumbar/ Yusrizal

Lubukbasung, (Antaranews Sumbar) - Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencatat produksi ikan air tawar di daerah itu turun dari 55.113 ton pada 2016 menjadi 50.489 ton pada 2017.

"Produksi ikan air tawar ini turun sebesar 4.633 ton atau sekitar 15 persen," kata Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Ermanto di Lubukbasung, Sabtu.

Berkurangnya produksi ikan ini akibat keramba jaring apung di Danau Maninjau tidak banyak beroperasi.

Ini akibat air danau vulkanik itu tercemar berat, sehingga ikan milik petani mati secara mendadak setelah kadar oksigen di dasar danau berkurang, katanya

Selama 2017, tambahnya, sekitar 120 ton ikan jenis nila dan mas mati secara mendadak.

"Kematian ikan ini merupakan bencana tahunan apabila curah hujan disertai angin kencang melanda daerah itu," katanya.

Agar target produksi ikan air tawar 2018 sebanyak 46.000 ton tercapai, pihaknya berusaha mengalihkan ketergantungan petani dari danau ke kolam air deras dan kolam air tenang.

Pada 2018, pihaknya bakal memfasilitasi cetak kolam baru seluas lima hektare terdiri atas Kecamatan Lubukbasung tiga hektare, Canduang satu hektare, Banuhampu satu hektare dan Sungaipua satu hektare.

Selain itu, program mina di Kecamatan Tanjungraya, Lubukbasung dan lainnya.

"Ini merupakan program setiap tahun dengan harapan target produksi akan tercapai nantinya," katanya.

Ketua Komisi II Bidang Perekonomian dan Keuangan DPRD Agam, Jondra Marjaya mendukung upaya yang dilakukan dinas terkait untuk meningkatkan produksi ikan dalam rangka menyejahterakan petani ikan di daerah itu.

"Saya berharap program itu berjalan dengan baik, sehingga akan tercapai tujuan dalam meningkatkan produksi dan menyejahterakan petani," katanya.

***1***

Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar